Zakat Fitrah

ZAKAT FITRAH

Fiqih

A. Pengertian Zakat Fitrah

Zakat fitrah yaitu yang diwajibkan karena berbuka (selesai) dari berpuasa dibulan ramadhan. Ia wajib dari seluruh orang dari kaum muslimin. Baik anak kecil maupun dewasa, laki-laki atau pun perempuan, orang yang merdeka maupun hamba sahaya.

Dari ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu, ia berkata:

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَضَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْصَاعًا مِنْ شَعِيرٍ، عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيْرِ وَالْكَبِيْرِ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah dengan satu sha’ kurma, atau satu sha’ gandum kepada setiap hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki, perempuan, anak-anak, dan orang dewasa dari kalangan kaum muslimin.’’ (HR. Bukhari dan Muslim)

B. Hukum Zakat Fitrah

Zakat fitrah disyariatkan pada bulan sya’ban tahun ke-2 hijriyah, sebagai pensuci bagi orang yang puasa dari perbuatan lagha dan rafas, dan agar menjadi pertolongan bagi orang-orang yang fakir dan miskin.

Di bawah ini, adalah beberapa dalil dari Al-Qur’an sehubungan dengan kewajiban zakat:

وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَارْ كَعُو امَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

خُذْمِنْ اَمْوَا لِهِمْ صَدَقَةًتُطَهِّرُ هُمْ وَتُزَكِّيْهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 103)

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu,

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : قَالَ رَسُولُ الله ﷺ: بُنِيَ الإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ ، وَالْحَجِّ ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Islam dibangun di atas 5 (perkara): syahadat Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji, puasa ramadhan.”

C. Kepada Siapa Diwajibkan?

 Zakat fitrah wajib bagi orang yang merdeka (bukan budak), muslim yang memiliki sekira satu sha’ kelebihan makanan untuk dirinya dan keluarganya sehari semalam.

Seorang muslim juga wajib membayarkan zakat fitrah untuk dirinya dan siapa saja yang mesti dinafkahinya seperti istri, anak-anaknya dan pembantu yang ada di bawah tanggunng jawabnya serta dinafkahinya.

Dari riwayat Muslim

لَيْسَ فِي الْعَبْدِ صَدَقَةٌ إِلَّا صَدَقَةَ الْفِطْرِ

“Tidak ada kewajiban zakat pada hamba sahaya, kecuali zakat fitrah.”

D. Jumlah

Zakat fitrah wajib dikeluarkan sebanyak 1 (satu) sha’ (1 sha’: 4 mud. 1 mud setara dengan satu cakupan dua telapak tangan orang dewasa), gandum, kurma, kismis, keju, beras, jagung atau yang lainnya yang merupakan makanan pokok.

حَدِيْثُ أَبِى سَعِيدٍالْخُدْرِىِّ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيْبٍ

Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu berkata: “Kami biasa mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, kurma, kismis dan keju.” (HR. Bukhari)

E. Kapan Wajibnya Zakat Fitrah

Para ahli fikih sepakat bahwa zakat fitrah wajib di akhir bulan ramadhan. Mereka berbeda pendapat dalam penetapan waktu wajibnya.

Menurut ats-tsauri, imam ahmad, ishaq, dan imam syafi’I dalam qaul jaded-nya, serta satu dari dua riwayat imam malik, bahwa wajibnya adalah ketika terbenamnya matahari pada malam lebaran sebab ia adalah waktu berbuka puasa dari puasa ramadhan.

Sedangkan menurut imam abu hanifah, laits, syafi’I dalam qaul qadim-nya serta riwayat kedua dari imam malik, bahwa waktu wajibnya adalah ketika terbitnya fajar pada hari raya.

F. Mendahulukan Zakat dari waktu wajib

Jumhur ahli fikih mengatakan bahwa diperbolehkan mendahulukan pembayaran zakat fitrah satu atau dua hari sebelum hari raya.

Ibnu umar Radhiyallahu ‘anhu berkata:

… أَمَرَبِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوْجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

“Beliau (Rasulullah ﷺ) menyuruh agar zakat fitrah itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk mengerjakan shalat (‘ied)…” (HR. Bukhari dan Muslim dan selain keduanya.)

Para ulama juga sepakat bahwa zakat fitrah tidak gugur karena diakhirkan setelah diwajibkan. Ia menjadi utang yang ditanggung oleh orang yang harus membayarnya, hingga zakat tersebut ditunaikan meskipun diakhir umurnya. Mereka juga sepakat bahwa zakat fitrah tidak boleh diakhirkan setelah hari raya.

G. Pembagian Zakat Fitrah

Pembagian zakat fitrah seperti pembagian zakat mal. Maksudnya zakat fitrah diberikan kepada delapan golongan yang disebutkan dalam ayat. Tapi orang-orang fakir lebih diutamakan dari golongan yang lainnya.

اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِ ۗ فَرِيْضَةًمِّنَ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ

“Sesungguhnya Zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berutang, untuk jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 60)

H. Apakah di dalam harta ada kewajiban selain Zakat?

Al-qurthubi menerangkan, firman Allah Subhaanahu wa ta’aala yang artinya:

“Dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat.” (QS. Al-Baqarah: 177).

Dengan ayat ini mereka orang yang berpendapat bahwa didalam harta itu ada hak selain zakat, menjadikan ayat tersebut sebagai dalil atas pendapat mereka, sehingga dengan demikian tercapai kesempurnaan kebaikannya. Ada juga yang berpendapat bahwa maksud dari ayat tersebut adalah zakat yang diwajibkan itu.

Pendapat pertama lebih shahih, sebab Ad-Daruquthni meriwayatkan dari Fathimah bin Qais yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “sesungguhnya di dalam harta ada hak selain zakat, kemudian beliau membaca ayat Al-Quran Surah Al-Baqarah (177).

Hadits ini meskipun di dalamnya ada catatan, tetapi ia telah menunjukkan keshahihan makna dalam ayat itu sendiri, yaitu firman-Nya Subhanahu wa ta’aala “Dan mendirikan shalat dan menunaikan Zakat.”(QS. Al-Baqarah: 177).

Allah Azza wa Jalla menyebutkan Zakat bersama shalat. Jelas ini merupakan dalil bahwa maksud firman Allah Azza wa Jalla “Dan memberikan harta yang dicintainya,”(QS Al-baqarah :177) bukanlah Zakat yang diwajibkan. Karena penyebutan itu menjadi pengulangan. Wallahu a’lam.

Ulama juga sepakat bahwa apabila ada kebetuhan bagi kaum muslimin setelah menunaikan Zakat maka wajib membelanjakan harta untuk memenuhinya. Imam malik mengatakan, “Wajib bagi kaum muslimin menebus tawanan meskipun itu akan menghabiskan harta mereka.”

Wallahu a’lam bisshawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *