Surah Al-Ikhlaash

SURAH AL-IKHLAASH

Tafsir

Tafsir Surah Al-Ikhlaash

(Memurnikan Keesaan Allah)

قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ، اَللّٰهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

“Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (QS. al-Ikhlaash)

Sebab Turunnya Surah Al-Ikhlaash

At-Tirmidzi, Al-Hakim, dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari jalur Abul Aliyah dari Ubay bin Ka’ab bahwasanya orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Terangkanlah sifat-sifat Tuhanmu.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat,

قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ، اَللّٰهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

“Katakanlah: ‘Dia-lah Allah, yang Maha Esa, Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Jarir.

Ikrimah berkata, “Ketika orang-orang yahudi berkata, ‘Kami menyembah ‘Uzair anak Allah.’ Dan orang-orang nasrani berkata, ‘Kami menyembah Yesus anak Allah.’ Orang-orang Majusi berkata, ‘Kami menyembah matahari dan bulan.’ Orang-orang musyrik berkata, ‘Kami menyembah berhala.’ Maka Allah menurunkan ayat kepada Rasulullah ﷺ, ﴾ قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ ﴿ “Katakanlah (Muhammad), ‘Dia-lah Allah, yang Maha Esa.’” Yakni, Dia-lah yang Maha Esa, tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya. Lafazh ini tidak ditetapkan kepada siapa pun dalam konteks penetapan, kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla, karena Dia Maha Sempurna dalam seluruh sifat dan perbuatan-Nya.

Selajutnya firman Allah ‘Azza wa Jalla, ﴾ اَللّٰهُ الصَّمَدُ ﴿ “Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” ‘Ikrimah berkata dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, “Yakni, seluruh makhluk bergantung kepada-Nya dalam semua kebutuhan dan permasalahan.”

‘Ali bin Abi Thalhah berkata dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, “Dia-lah Pemimpin Yang Maha Sempurna dalam Kepemimpinan-Nya. Dia-lah Yang Maha Sempurna Maha Mulia dalam Kemuliaan-Nya. Dia-lah Yang Maha Agung, Yang Maha Sempurna dalam Keagungan-Nya. Dia-lah Yang Maha Penyantun, Yang Maha Sempurna dalam Penyantunan-Nya. Dia-lah Yang Maha Mengetahui, Maha Sempurna dalam Pengetahuan-Nya. Dia-lah Yang Maha Bijaksana, Maha Sempurna dalam Kebijaksanaan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha Sempurna dalam segala macam Kemuliaan dan Kepemimpinan. Dan Dia-lah Allah ‘Azza wa Jalla. Itulah sifat-Nya, yang hanya pantas  bagi-Nya, tidak ada yang serupa dengan Dia, dan tidak ada sesuatu pun yang sama dengan Dia. Maha Suci Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

Al-A’masy berkata dari Syaqiq dari Abu Wa-il menafsirkan ayat, “Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” Yakni Pemimpin yang berada di puncak kepemimpinan-Nya.”

Kandungan Surah Al-Ikhlaash

Maha Suci Allah Dari Memiliki Anak, Orang Tua, Istri dan Tandingan

Selanjutnya firman Allah ‘Azza wa Jalla,  ﴾ لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ﴿ “(Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” Yakni Dia tidak punya anak, tidak punya orang tua dan tidak pula punya istri.

Mujahid menafsirkan ayat, ﴾ وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ ﴿ “Dan  tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia,” yakni Dia tidak punya istri.” Hal ini sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗ اَنّٰى يَكُوْنُ لَهٗ وَلَدٌوَّلَمْ تَكُنْ لَّهٗ صَاحِبَةٌ ۗ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ وَهُوَبِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dia (Allah) pencipta langit dan bumi. Bagaimana mungkin Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-An’aam: 101) Yakni, Dia-lah Pemilik dan Pencipta segala sesuatu, lalu bagaimana mungkin makhluk-Nya menyamai Dia atau menyerupai Dia. Mahasuci Allah ‘Azza wa Jalla dari hal tersebut.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَقَالُوْا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا ۗ لَقَدْ جِئْتُمْ شَيْئًا اِدًّا ۙ تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْاَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ۙ اَنْ دَعَوْالِلرَّحْمٰنِ وَلَدًا ۚ وَمَايَنْبَۢغِيْ لِلرَّحْمٰنِ اَنْ يَّتَّخِذَ وَلَدًا ۗ اِنْ كُلُّ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ اِلَّآ اٰتِى الرَّحْمٰنِ عَبْدًا ۗ لَقَدْ اَحْصٰهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا. وَكُلُّهُمْ اٰتِيْهِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فَرْدً

“Dan mereka berkata, ‘(Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.’ Sungguh, kalian telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu). Karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada (Allah)Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba. Dia (Allah) benar-benar telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. Dan setiap orang dari mereka akan datang kepada Allah sendiri-sendiri pada hari Kiamat.” (QS. Maryam:  88-95)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَقَالُوْا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا سُبْحٰنَهٗ ۗ بَلْ عِبَا دٌمُّكْرَمُوْنَ ۙ لَايَسْبِقُوْ نَهٗ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِاَمْرِهٖ يَعْمَلُوْنَ

“Dan mereka berkata, ‘Rabb Yang Maha Pengasih telah menjadikan (Malaikat) sebagai anak.’ Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para Malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 26-27)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

وَجَعَلُوْا بَيْنَهٗ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا ۗ وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ اِنَّهُمْ لَمُحْضَرُوْنَ ۙ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يَصِفُوْنَ

“Dan mereka mengadakan (hubungan) nasab (keluarga) antara Dia (Allah) dan jin. Dan sungguh, jin telah mengetahui bahwa mereka pasti akan diseret (ke Neraka). Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Ash-Shaffat: 158-159)

Dalam Shahiih al-Bukhari disebutkan:

لَاأَحَدَ أَصْبَرُ عَلٰى أَذًى سَمِعَهُ مِنَ اللّٰه، يَجْعَلُوْنَ لَهُ وَلَدًا، وَهُوَ يَرْزُقُهُمْ وَيُعَا فِيْهِمْ

“Tidak ada seorang pun yang lebih sabar daripada Allah, terhadap penghinaan yang didengarnya. Mereka membuat-buat bagi-Nya anak, sedangkan Dia memberi mereka rizki dan kesehatan.”

Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

قَالَ اللّٰهُ ﷻ: كَذَّبَنِيْ ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِيْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيْبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: لَنْ يُعِيْدَنِي كَمَابَدَأَنِيْ، وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ، وَأَمَّاشَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ: اتَّخَذَ اللّٰهُ وَلَدًا، وَأَنَا الْأَ حَدُ الصَّمَدُ، لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفُوًا أَحَدٌ

“Allah Jalla Jalaluh berfirman, ‘Anak keturunan Adam telah mendustakan Aku, padahal dia tidak pantas melakukan itu. Dan dia mencaci Aku, padahal dia tidak pantas melakukan itu. Adapun pendustaannya kepada-Ku maka ialah ucapannya, ‘Dia tidak akan menghidupkanku kembali seperti halnya Dia menciptakanku pertama kali.’ Padahal menciptakannya pertama kali tidak lebih mudah bagi Aku daripada menghidupkannya kembali. Adapun caciannya terhadap Aku ialah ucapannya, ‘Allah mempunyai anak.’ Padahal Aku Maha Esa, Tempat meminta segala sesuatu, Aku tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Aku.”

Demikianlah akhir tafsir surah al-Ikhlaash. Hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla-lah segala puji dan anugerah.

Wallahu a’lam bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *