QANAAH SUAMI ISTRI

Hadits

QANAAH SUAMI ISTRI PINTU KEBERKAHAN PASUTRI

Di antara penyebab retaknya bahtera rumah tangga adalah tidak qana’ah atas pemberian Allah ‘Azza wa Jalla baik berupa harta, suami maupun istri. Barang siapa yang kondisinya seperti itu, ia tidak akan pernah memperoleh kebahagiaan selama-lamanya. Karena sesuatu yang mustahil bagi seseorang untuk menjadi manusia yang paling tinggi dalam segala hal, karena kesempurnaan mutlak itu adalah kepunyaan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, sifat qana’ah dan ridha merupakan karunia yang sangat berharga dalam hati seseorang.

Berkata Sa’d Ibnu Abi Waqqash Radiyallahu ‘Anhu kepada anaknya, Umar, ”Apabila engkau mencari kekayaan maka carilah dengan qana’ah maka harta apa pun tidak akan membuatmu cukup.” (‘Uyun al-Akhbar 3/187).

FENOMENA PUDARNYA QANAAH SUAMI ISTRI

Imam Muslim dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan sebuah kisah yang menakjubkan tentang wanita bani israil yang telah pudar sifat qana’ahnya dalam penampilan dan kencanduan dengan gaya hidup glamour masa itu.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkhotbah dan memanjangkannya dan beliau menyebut perihal masalah dunia dan akhirat kemudian beliau bersabda yang artinya:

“sesungguhnya awal penyebab kehancuran bani isra’il adalah tatkala ada seorang wanita fakir membebani dirinya dalam hal pakaian atau mode sebagaimana wanita kaya.”beliau menyebutkan”seorang wanita bani isra’il yang berpostur pendek dan ia memebuat dua buah kaki dari kayu (agar terlihat tinggi) dan cicin yang memepunyai tutupan yang di gantungi minyak wangi misk. ia keluar berjalan di antara dua wanita yang tinggi. maka mereka (bani isra’il) mengutus seorang untuk membuntuti tiga wanita itu, sehingga mereka mengenali dua orang wanita yang tinggi wanita namun tidak tahu siapa wanita pemilik kaki kayu tersebut.” (HR.Muslim: 2252,Ibnu Khuzaimah: 447 dishasikan oleh syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah:591)

 Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَيْلٌ لِلنِّسَاءِ مِنَ لْأَحْمَرَيْنِ الذَّ هَبِ وَالْفِضَّةِ

“Celaka bagi wanita dan dua yang merah, yaitu emas dan perak.” (HR. Ibnu Hibban: 1464, ash-Shahihah: 339)

Berkata syaikh Musthafa al-‘Adawi khafidzahullah, “Hadits ini bukan menunjukkan haramnya emas (bagi wanita), tetapi berisi peringatan bagi wanita agar jangan berbangga diri dan menampakkan perhiasannya kepada ajnabi dan merasa tinggi dari orang lain dengan nikmat yang Allah ‘Azza wa jalla berikan kepadanya serta berlomba-lomba membelinya, sehingga membuat para suami kesusahan dan mengumpulkan harta yang halal maupun haram untuk memenuhi permintaan istri.”

URGENSI QANA’AH DALAM KEHIDUPAN

1. Qana’ah dapat menambah keimanan dan keyakinan kepada Allah ‘Azza wa jalla karena Dia-lah yang menjemin rezeki dan membaginya di antara para makhluk. Al-Hasan al-Bashri Rahimallah Berkata, “Termasuk dari lemahnya keyakinanmu adalah jika yang engkau miliki lebih engkau harapkan dari yang ada ditangan Allah.” (Jami’al-Ulum wal-hikam 2/147)     

2. Mendatangkan kehidupan yang thayyibah (baik).

Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًامِّنْ ذَكَرٍاَوْاُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةًطَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS.an-Nahl: 97)

Ali bin Abih Thalib, Ibnu Abbas, al-Hasan Radhiyallahu ‘Anhu menafsirkan “kehidupan yang baik” adalah Qana’ah. (tafsir ath-Thabari 14/17, al-Hakim 2/357)

Ibnu Jauzi Rahimallah mengatakan, “Barangsiapa yang qanah’ah kehidupannya akan baik dan barangsiapa yang tamak kesalahannya akan berkepanjangan.” (Nuzhatul-Fudhala’hal. 1504)

3. Qanaah merupakan realisasi syukur kepada Allah ‘Azza wa jalla. barangsiapa yang menganggap remeh rezeki yang diberikan Allah Kepadanya, berarti ia kurang dan tidak bersyukur kepada Allah ‘Azza wa jalla. Nabi Shallallahu ‘Alaihi  wa sallam bersabda:

كُنْ وَرَعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنَعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

“Jadilah bersifat wara’,engkau akan menjadi manusia yang paling taat dan jadilah bersifat qana’ah, engkau akan menjadi manusia yang paling bersyukur.” (HR. Ibnu Majah: 4217, Abu Nu’aim 10/365 dan dishahihkan oleh syaikh al-Albani dalam shahih at-Targhib: 1741)

4. Orang yang qana’ah akan memperoleh keberuntungan dan berita gembira. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

طُو بَى لِمَنْ هُدِىَ إِلَى الإِسْلَامِ وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَا فًا وَقَنَعَ

“Beruntunglah orang yang diberikan hidayah kepada islam dan hidupnya merasa cukup dan qana’ah.” (HR. Ahmad 6/19, at-Tirmidzi: 2249 dan berkata, “hasan shahih.”)

5. Kekayaan itu pada hakikatnya ada pada qana’ah. Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan sifat ini pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang pada saat itu tidak memiliki harta yang mencukupinya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

وَوَجَدَكَ عَآئِلًافَاَغْنٰىۗ

“Dan Dia mendapatimu sebagai orang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” (QS. Ad-Dhuha: 8).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Bukanlah kaya itu banyak harta, tetapi kaya itu adalah kaya hati.” (HR. al-Bukhari: 6446, Muslim: 1051)

6. Qana’ah merupakan perisai dari dosa yang dapat membutakan hati dan menghapus kebaikan, seperti; hasad, ghibah, namimah, dusta dan dosa-dosa besar lainnya.

7. Kemuliaan seseorang ada pada sifat qana’ah. Karena itu Jibril ‘Alaihiissalam berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

وَاعْلَمْ أَنَّ شَرَفَ الْمُؤْمِنِ قِيَامُهُ بِللَّيْلِ وَعِزَّهُ اِسْتِغْنَا ؤُهُ عَنِ النَّاسِ

“Ketahuilah, bahwa kemuliaan seorang mukmin pada shalat malamnya, sedang kemuliaannya adalah pada tidak butuhnya ia kepada (apa yang dimiliki) manusia.” (HR. al-Hakim 4/324, ash-Shahihah: 831)

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG SIFAT QANAAH SUAMI ISTRI

1. Memperkuat keimanan dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan bagi orang-orang yang bertakwa jalan keluar dari segala kesulitan hidup yang dihadapi:

وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS. At-Talaq: 2)

2. Mentadabburi Al-Qur’an, terutama ayat-ayat yang berkaitan dengan rezeki dan usaha manusia mencarinya. Contohnya:

وَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَارَ آدَّ لِفَضْلِهٖ ۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ

“Dan jika Allah ‘Azza wa Jalla menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (QS. Yunus: 107).

3. Melihat orang yang lebih rendah dalam urusan dunia.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا رَأَى أَحَدُ كُمْ مَنْ فَوْقَهُ فِي الْمَالِ وَالْحَسَبِ، فَلْيَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَدُوْنَهُ فِي الْمَالِ وَالْحَسَبِ

“Jika salah seorang kalian melihat orang yang lebih tinggi darinya dalam harta dan kedudukan maka lihatlah orang yang lebih rendah darinya dalam harta dan kedudukan.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya: 714)

4. Mengetahui hikma di balik perbedaan rezeki dan kedudukan dunia antara para hamba, salah satunya agar mereka saling memberikan manfaat satu sama lain, bukan untuk saling hasad.

5. Mengetahui bahaya kekayaan diakhirat nanti bagi pemiliknya jika tidak digunakan secara syar’i. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda yang artiya:

“Tidak akan bergeser kaki anak adam pada hari kiamat di sisi Allah ‘Azza wa Jalla sampai ia di Tanya tentang lima perkara: tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, masa mudanya dalam hal apa ia hilangkan, hartanya dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, serta apa yang ia amalkan dari ilmunya.” (HR. at-Tirmidzi: 2419 dab ia berkata, “Hasan Shahih.”)

6. Memahami bahwa ambisi terhadap harta dapat menghancurkan kehidupan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

فَوَ اللّٰهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْى أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَاكَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ ))

“Demi Allah, tidaklah kefakiran itu yang aku khawatirkan kepada kalian. Tetapi aku khawatir jika dunia ini dibentangkan bagi kalian sebagaimana dibentangkan bagi orang-orang sebelum kalian, kemudian kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka, sehingga hancurlah kalian oleh dunia itu layaknya Ia telah menghancurkan mereka.” (HR. al-Bukhari: 6425, Muslim: 2961)

7. Memahami betapa banyaknya orang yang memiliki harta namun ia tidak bisa menikmati semuanya, sedangkan ia akan mempertanggungjawabkan seluruh hartanya.

PENYEBAB PUDARNYA QANAAH SUAMI ISTRI DAN SOLUSINYA

Jika ditilik, sungguh penyebab terbesar mengikisnya qanaah suami istri adalah karena beberapa hal:

a. Tidak ghadhdhul bashar (menahan pandangan), baik dialam nyata maupun di alam maya (internet, sosmed). Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan kedua jenis manusia ini dengan firmanNya:

قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّواْ مِنْ أَبْصَٰرِهِمْ وَيَحْفَظُواْ فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكٰى لَهُمْ ۗ إِنَّ اللّٰهَ خَبِيرُۢبِمَا يَصْنَعُونَ . وَقُلْ لِّلْمُؤْمِنٰتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصٰرِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إِلَّامَاظَهَرَمِنْهَاۖ

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya..” (QS. An-Nur: 30-31)

Berkata al-Qurthubi Rahimallah, “Didahulukan antara menahan pandangan sebelum kemaluan, karena mata adalah penghantar ke hati, sebagaimana jurang akan menghantarkan kepada kematian.” (Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an 12/226)

Ibnu Katsir Rahimallah berkata, “Tatkala memandang dapat memicu rusaknya hati, sebagaimana perkataan sebagian salaf, ‘memandang adalah panah beracun bagi hati,’ karena itulah Allah ‘Azza wa Jalla perintahkan untuk menjaga kemaluan, sebagaimana perintah menjaga pandangan yang merupakan factor penunjangnya.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim 3/374)

b. Wanita terlalu sering keluar rumah.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَقَرْنَ فِيْ بُيُوْ تِكُنَّ وَلَاتَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْاُوْلٰى وَاَقِمْنَ الصَّلٰوةَوَاٰتِيْنَ الزَّكٰوةَ وَاَطِعْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗ

“Dan hendaknya kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti  orang-orang jahiliah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.” (QS. al-Ahzab: 33)

c. Bergaul dengan sahabat yang buruk. Karena pergaulan dapat mempengaruhi sifat dan tingkah laku seseorang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *