Qadha dan Qadar

Qadha’ dan Qadar

Aqidah

Beriman kepada Qadha dan Qadar adalah salah satu rukun Iman yang enam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ :

اَلْإِيْمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللّٰهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman adalah bahwa anda beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, rasul-rasulNya, Hari akhir dan beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Al-Qur’an terdapat firman Allah ‘Azza wa jalla,

إِنَّاكُلَّ شَىْءٍ خَلَقْنٰهُ بِقَدَرٍ

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)

وَخَلَقَ كُلَّ شَىْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya (takdir-takdirnya) dengan serapi-rapinya.” (QS. Al-Furqan: 2)

Maka tidak ada sesuatu pun yang tidak punya ketentuan takdir, atau terjadi secara kebetulan, atau terjadi dengan sendirinya; sesungguhnya segala sesuatu yang terjadi adalah telah ditakdirkan dan dituliskan.

Beriman kepada Qadha’ dan Qadar mencakup empat tingkat, yang dapat kita ringkas sebagai berikut:

Tingkat pertama: beriman kepada ilmu Allah ‘Azza wa jalla yang mencakup dan meliputi segala sesuatu. Dan bahwasanya Allah ‘Azza wa jalla sejak zaman azali telah mengetahui apa yang telah terjadi, apa yang tengah terjadi, dan apa yang tidak terjadi yang seandainya terjadi bagaimana ia terjadi.

Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu Allah ‘Azza wa jalla.

Tingkat Kedua: Bahwasanya Allah ‘Azza wa jalla Yang Mahaagung lagi Mahabijaksana telah menuliskan di Lauh al-Mahfuzh semua ketentuan takdir makhluk, setelah Allah ‘Azza wa jalla mengetahuinya.

Dan ini adalah penulisan umum yang mencakup segala sesuatu. Di dalam hadits Nabi ﷺ ,

إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللّٰهُ الْقَلَمَ، قَالَ: اُكْتُبْ، قَالَ: مَاأَكْتُبُ؟ قَالَ: اُكْتُبْ مَاهُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sesungguhnya yang paling pertama Allah ciptakan adalah pena, Allah berfirman, ‘Tulislah’, pena tersebut berkata, ‘Apa yang aku tuliskan?’ FirmanNya, ‘Tulislah semua yang akan terjadi sampai Hari Kiamat’.” (HR. Abu Ya’la dan al-Baihaqi, dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Tingkat Ketiga: Kehendak (al-Masyi’ah) Allah ‘Azza wa jalla. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di alam semesta ini kecuali karena Kehendak dan Kemauan Allah ‘Azza wa jalla sebagaimana yang tertulis di Lauh al-Mahfuzh, dan di dalam ilmuNya.

Tidak akan terjadi sesuatu pun tanpa kehendakNya, tidak ada sesuatu pun dalam kerajaanNya yang tidak diinginkanNya.

اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَايُرِيْدُ

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 14)

قَالَ كَذٰلِكَ اللّٰهُ يَفْعَلُ مَا يَشَآءُ

“Demikianlah Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.” (QS. Ali Imran: 40)

Maka apa yang terjadi dialam semesta ini berupa kehidupan atau kematian, atau Iman dan kufur, semua itu dikehendaki dan diinginkan Allah ‘Azza wa jalla. Allah ‘Azza wa jalla menghendaki kebaikan dan keburukan, menghendaki Iman dan juga menghendaki kekufuran.

Sehingga segala sesuatu masuk dalam kehendakNya. Apa yang dikehendakiNya pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakiNya pasti tidak akan terjadi.

Tingkatan Keempat: Allah ‘Azza wa jalla menciptakan dan mengadakan. Apa yang Allah ‘Azza wa jalla kehendaki dan Allah ‘Azza wa jalla inginkan, akan Dia adakan dan Dia ciptakan.

اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙ وَّهُوَعَلَى كُلِّ شَيْءٍوَّكِيْلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

اَلَالَهُ الْخَلْقُ وَالْاَمْرُ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (QS. Al-A’raf: 54)

مَآاَصَابَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَافِيْٓ اَنْفُسِكُمْ اِلَّافِيْ كِتٰبٍ مِّنْ قَبْلِ اَنْ نَّبْرَاَهَا

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (al-Lauh al-Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

Dalil-dalil ilmu Allah ‘Azza wa jalla sangatlah banyak.

Dan diantara sekian banyak yang Allah ‘Azza wa jalla sifatkan DiriNya dengannya adalah, al-Ilmu (mengetahui). Allah ‘Azza wa jalla mengetahui orang yang masuk surga dan jumlah orang yang masuk neraka, dan itu ada dalam ilmuNya sejak zaman azali.

Dan apa yang telah Allah ta’ala takdirkan, tidak akan bertambah dan tidak akan berkurang. Di antaranya adalah bahwasanya Allah ‘Azza wa jalla mengetahui penduduk surga dan penduduk neraka, dan mengetahui apa yang akan mereka kerjakan. Kita beriman dengannya tetapi juga (berusaha) beramal, dan kita tidak mendiskusikan Qadha’ dan Qadar.

Bagaimana itu dan kenapa? Bagaimana Allah ‘Azza wa jalla menghisab segala sesuatu yang telah ditakdirkanNya? Dan segala macam pertanyaan omong kosong yang buang-buang waktu, bahkan sebenarnya merupakan penolakan terhadap Allah ‘Azza wa jalla.

Yang wajib bagi anda adalah melaksanakan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Urusan seorang hamba bukan meneliti rahasia Allah ‘Azza wa jalla, dan berseteru dengan Allah ‘Azza wa jalla. Tugas seorang hamba hanya beramal.

Itulah sebabnya ketika Nabi ﷺ mengabarkan para sahabat beliau, mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, tidakkah kita bergantung saja kepada ketentuan tertulis kita itu dan meninggalkan amal? Beliau menjawab,

لَا، اِعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Tidak, beramallah karena setiap orang dimudahkan kepada apa dia diciptakan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Allah b berfirman,

إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتّٰى ﴿٤﴾ فَاَمَّامَنْ اَعْطٰى وَاتَّقٰى ﴿٥﴾ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنٰى ﴿٦﴾ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰى ﴿٧﴾ وَاَمَّا مَنْ ۢبَخِلَ وَاسْتَغْنٰى ﴿٨﴾ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنٰى ﴿٩﴾ فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰى ﴿١٠﴾٠

“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya dijalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya  pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyampaikan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (QS. Al-Lail: 4-10).

Maka yang dituntut dari kita hanya beramal shalih dan meninggalkan amal yang buruk.

Beralasan dengan Qadha’ dan Qadar sama sekali bukan udzur. Allah b benar-benar telah menjelaskan kebaikan dan keburukan, maka tidak ada udzur lagi. Orang-orang terjatuh didalam kesulitan disebabkan karena masuk kedalam masalah-masalah yang bukan hak (dan kewenangan), lalu mereka mengatakan, “Jika Allah b telah menetapkan (takdirNya) bahwa aku akan masuk surga, aku pasti akan memasukinya, dan jika sebaliknya Dia telah menetapkan aku akan masuk neraka, aku akan memasukinya”, lalu tidak beramal.

Dijawab untuknya, “Anda tidak mengatakan ini kepada diri anda. Apakah anda hanya duduk dirumah dan tidak mencari rejeki, lalu mengatakan, ‘Jika Allah b telah menetapkaan rejeki untukku maka Dia pasti akan memudahkannya untukku, ataukah anda keluar dan berusaha mencari rejeki?

Hewan saja dan burung-burung tidak hanya duduk di sarangnya, akan tetapi keluar dan mencari rejeki. Di dalam hadits Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُوْ خِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Jikalau kalian bertawakkal kepada Allah b dengan tawakkal yang sesungguhnya niscaya kalian akan diberikan rizki sebagaimana burung diberi rizki, yang keluar di pagi hari dengan perut kosong dan kembali di sore hari dengan perut kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Allah b telah menciptakannya dengan fitrah mencari rizki dan mengerjakan sebab-sebab, padahal mereka adalah hewan, dan anda adalah seorang laki-laki yang berakal sehat!

Kemudian, jika seseorang mencuri sesuatu dari anda, apakah anda akan mengatakan, ini adalah Qadha’ dan Qadar, ataukah anda akan melaporkannya? Anda pasti akan melaporkan, menuntut bahkan siap bertengkar (dengan orang yang mencuri barang anda itu) dan anda tidak akan berhujjah dengan Qadha’ dan Qadar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *