Pintu Maksiat

PINTU MAKSIAT

Artikel

Pintu Maksiat merupakan cara Iblis dan bala tentaranya untuk menyesatkan manusia, Yaitu dengan menghiasi maksiat dan dosa sebagai jalan utama menuju neraka.

Semenjak di ciptakannya manusia permusuhan antara Adam dan Iblis telah berlangsung. Tidak akan berhenti permusuhan tersebut kecuali dengan datangnya hari kiamat. Ingatlah tatkala Iblis telah bersumpah,

قَالَ رَبِّ بِمَآ اَغْوَ يْتَنِيْ لَاُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى الْاَرْضِ وَلَاُغْوِ يَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَۙ (٣٩) اِلَّا عِبَا دَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ (٤٠) قَالَ هٰذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيْمٌ (٤۱) اِنَّ عِبَادِيْ لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّامَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغٰوِيْنَ (٤۲

Iblis berkata: “Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.” Allah berfirman: “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah (mejaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. al-Hijr: 39-42)

Maka itu artinya Iblis dan bala tentaranya akan selalu mencari jalan baru dan sekuat tenaga untuk menyesatkan anak adam ke nearka. Yaitu dengan menghiasi maksiat dan dosa sebagai jalan utama menuju neraka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memperingatkan tentang hal ini,

حُجِبَتِ النَّارُ بِاشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ

“Neraka ditutupi dengan syahwat dan kesenangan, sedangkan surge ditutupi dengan hal-hal yang tidak mengenakkan.” (HR. al-Bukhari: 6487)

Telah kita ketahui bersama bahwa jalan utama yang digunakan oleh Iblis dan bala tentaranya untuk mengajak anak manusia menuju neraka adalah kemaksiatan. Sedangkan maksiat itu banyak sekali macamnya. Sebagaimana disebutkan Imam Ibnul Qayyim Rahimallah, bahwa pintu maksiat ada 4 (empat). Dan barangsiapa yang mampu menjaga dirinya dari masuk melalui pintu tersebut, niscaya dia akan selamat dari bahaya perbuatan maksiat dengan ijin Allah ‘Azza wa Jalla.

Pintu pertama, al-Lahazhat (pandangan mata) yang berkedudukan sebagai pandangan syahwat sekaligus mata-matanya. Maka orang yang mengumbar pandangan matanya sekehendak hati, sama seperti ia telah menjerumuskan dirinya ke dalam jurang kebinasaan. Menjaga pandagan mata dari kemaksiatan bisa menjadi inti dari penjagaan kemaluan. Inilah alasannya mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu melarang para sahabat untuk duduk-duduk di pinggir jalan bila tidak ada keperluan.

( إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ فِى الطُّرُقَاتِ. (قَالُوا يَارَسُولَ اللّٰهِ مَالَنَا بُدٌّ مِنْ مَجَا لِسِنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا. قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ – صلى اللّٰه عليه وسلم – ( فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجْلِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهُ). قَالُوا وَمَا حَقُّهُ قَالَ : غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Jauhilah oleh kalan duduk-duduk di pinggir jalan!” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah majelis kami yang tidak bisa kami hindari.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika kalian tidak bisa berhenti, maka berilah jalan itu haknya.” Mereka bertanya, “Apa pula hak jalan itu?” Beliau berkata, “Menundukkan pandangan, menahan gangguan, mejawab salam serta amar ma’ruf nahi mungkar.” (HR. Muslim: 5685)

Maka dari itu, pandangan mata ini juga disebut sebagai salah satu sumber utama datangnya bala. Tidak mengherankan juga bila ada ulama yang menyebutkan, “Bersabar untuk menjaga pandangan itu lebih mudah bila dibandingkan dengan menanggung kesengsaraan yang akan diterima setelahnya.

Pintu kedua, al-Khatharat (lintasan pikiran). Bila lintasan pikiran sudah tidak bisa dikendalikan, maka seseorang tidak akan bisa mengontrol jiwa dan hawa nafsunya. Karena dari lintasan pikiranlah sumber dari segala kebaikan dan kejelekan. Lintasan pikiran yang liar pun dapat menyeret seseorang kepada terbuai angan. Padahal kita dituntut untuk sibuk beramal shalih, bukan hanya berangan-angan.

Pintu ketiga, al-Lafazhat (ucapan lisan). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu pernah ditanya tentang penyebab terbanyak yang menjerumuskan manusia ke neraka, maka beliau menjawab,

أَكْثَرُ مَايُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللّٰهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَأَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Sebab terbanyak yang memasukkan manusia kedalam surga adalah bertakwa kepada Allah dan akhlak yang baik, sedangkan yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah mulut dan kemaluan.” (HR. at-Tirmidzi 1/361, Ibnu Majah: 4246, Ahmad 2/291, dinilai shahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no.977)

Sedangkan cara menjaganya, yaitu tidak membiarkan satu pun kata mubazir atau dosa keluar dari lisan kita. Karena itulah, hendaknya kita senantiasa berpikir sebelum berucap.

Pintu keempat, al-Khuthuwat (langkah kaki). Inilah pintu keempat yang barang siapa bisa menjaga kakinya dari melangkah menuju kemaksiatan, niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan selamatkan dirinya dari kebinasaan.

Adapun cara menjaganya, yaitu dengan sekuat tenaga berusaha menahan langkah kakinya agar tidak bergerak kecuali pada sesuatu yang bermanfaat dan membuahkan pahala. Karena itulah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpesan kepada umat akhir zaman tatkala menghadapi zaman fitnah, agar duduk dan tidak melangkahkan kaki bersama manusia yang meramaikan api fitnah.

Wallahu a’lam bissawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *