ORANG BERIMAN MELIHAT DOSANYA SEOLAH-OLAH DIA DUDUK DIATAS GUNUNG

Artikel

ORANG BERIMAN MELIHAT DOSANYA SEOLAH-OLAH DIA DUDUK  DIATAS GUNUNG

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu mengilustrasikan keadaan orang yang beriman dalam hubungannya dengan kemaksiatan dengan ilustrasi yang detail dan mendalam, beliau berkata,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَحنَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَيَرَ ى ذُنُوْبِهُ كَذُبَابٍ مَرَّعَلَى أَنْفِهِ، فَقَالَ بِهِ هَكَذَا – قَالَ أَبُوْشِهَابٍ: بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ-.

“Orang beriman melihat dosa-dosanya seolah-olah dia duduk diatas gunung, Dia takut gunung tersebut menimpanya. Sementara orang yang suka berbuat dosa melihat dosanya seperti lalat yang lewat diatas hidungnya, dia hanya melakukan begini.” –Ibnu syihab berkata, “(yakni mengibaskan) tangannya diatas hidungnya-.

Al-Muhibb ath-Thabari berkata, “Ini hanyalah sifat orang yang beriman karena begitu takutnya kepada Allah b dan hukumanNya, karena ia merasa yakin dengan dosanya yang besar dan tidak yakin mendapatkan ampunan dari Allah b. Sedangkan orang yang suka berbuat dosa sedikit pengetahuannya tentang Allah b. Karena itu kurang rasa takutnya dan menganggap remeh kemaksiatan.

Pernah Umar bin Khaththab h menemui Abu Bakar ash-Shiddiq h dalam keadaan memegang lidahnya, lalu Abu Bakar mengatakan,

لِسَانِيْ أَوْرَدَنِي الْمَوَارِذَ.

“Lisanku inilah yang membawaku kepada tempat-tempat (kebinasaan).”

Abdullah bin Amr bin al-Ash h mengilustrasikan jiwa seorang mukmin ketika melakukan kesalahan. Dia mengatakan,

“Sungguh jiwa orang yang beriman lebih terguncang karena melakukan kesalahan dibandingkan burung ketika ia dilempar.”

Mudah-mudahan Kita sama-sama memahami bahwa terdapat perbedaan antara pandangan Abdullah bin Amr h terhadap dosa dengan pandangan kita terhadap dosa.

Adakalanya pandangan seseorang tertuju pada kecilnya kesalahan. Bilal bin Sa’ad mengingatkan perilaku ini, dia mengatakan,

لَاتَنْظُرْ إِلَى صِغَرِالْخَطِيْئَةِ، وَلٰكىِنِ انْظُرْإِلَى مَنْ عَصَيْتَ.

“ Jangan melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa kamu bermaksiat.”

Menganggap remeh suatu dosa adalah suatu yang besar bagi al-Auza’i. Dia mengatakan,

كَانَ يُقَالُ مِنَ الْكَبَائِرِ: أَنْ يَعْمَلَ الرَّ جُلُ الذَّنْبَ يَحْتَقِرُهُ.

“Dikatakan termasuk dosa besar adalah apabila seseorang melakukan dosa (kecil) tapi dia anggap remeh.”

Menganggap besar suatu dosa, bagi orang yang melakukan dosa, akan melahirkan istighfar, taubat, tangisan, penyesalan dan rengekan kepada Allah b dengan doa dan permohonan kepadaNya agar dirinya dibebaskan dari keburukan dan akibat buruk dosa tersebut. Semua itu menjadi faktor kuat yang memungkinkan pelaku dosa tersebut dapat mengalahkan syahwatnya dan menguasai hawa nafsunya.

Adapun mereka yang menganggap remeh dosa, mereka merasa menyesal dan bertekad untuk bertaubat, tetapi tekad tersebut tekad yang sangat lemah yang mudah lenyap dihadapan tarikan-tarikan kemaksiatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *