makna laa ilaaha illallaah

Laa Ilaaha Illallaah

Aqidah

Makna ‘Laa Ilaaha Illallaah

Kalimat yang agung ini adalah sesuatu yang pertama kali diwajibkan atas manusia, sebagaimana ia adalah kewajiban yang terakhir bagi seseorang. Oleh karena itu, barangsiapa meninggal di atas kalimat tersebut berarti ia termasuk penghuni surge, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ,

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنْ لَاإِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa meninggal dunia dan dia meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang Haq kecuali Allah, niscaya ia akan masuk Surga.” (HR. Muslim)

Karena itu, kewajiban mengetahui “laa ilaaha illallaah” adalah kewajiban yang paling agung dan paling penting. Adapun makna “laa ilaaha illallaah” adalah tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla semata. Ia menghapuskan segala bentuk sesembahan selain Allah ‘Azza wa Jalla dan menetapkan bahwa, penyembahan (ibadah) itu hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla semata, tidak ada sekutu bagiNya.

Karenanya, makna ‘al-ilah’ adalah ‘al-ma’bud’ (yang disembah). Sehingga barangsiapa menyembah sesuatu (yang lain) berarti ia telah menjadikan sesembahan lain selain Allah ‘Azza wa Jalla. Padahal semua itu bathil kecuali hanya satu sesembahan, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla semata.

Rukun-rukun  ‘Laa ilaaha IIIaIIaah’

Kalimat yang agung ini memiliki dua rukun, yaitu ‘an-nafyu’ (peniadaan) dan ‘al-itsbat’ (penetapan).

Rukun yang pertama yaitu ‘laa ilaaha’ yang berarti penafian atau peniadaan ibadah kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, dan pembatalan kemusyrikan serta kewajiban mengingkari segala apa yang disembah selain Allah ‘Azza wa Jalla.

Rukun yang kedua yaitu ‘illallaah’ yang berarti penetapan bahwa ibadah itu hanya ditujukan kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata, serta mengesakanNya dalam segala bentuk dan macam ibadah. Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla.

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى

“Maka barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat.” (QS. Al-Baqarah: 256).

FirmanNya, ‘Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut, adalah makna dari rukun yang pertama ‘laa ilaaha’ dan firmanNya, ‘Dan beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla’ adalah makna dari rukun yang kedua ‘illallaah’.

Syarat-syarat ‘Laa ilaaha illallaah’

Syahadat  ‘laa ilaaha illallah’ harus memenuhi tujuh syarat dimana tanpa ketujuh syarat tersebut maka syahadat itu tak bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Ketujuh syarat itu adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui makna ‘laa ilaaha illallaah’, berdasarkan firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَاعْلَمْ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ

“Ketahuilah, bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah.” (QS. Muhammad: 19).

2. Yakin, yakni hendaknya orang yang mengucapkannya benar-benar yakin dengan makna yang ditunjukkan kalimat syahadat tersebut. Jika ia ragu-ragu maka hal itu tidak ada manfaatnya. Allah berfirman,

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْ ابِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوْا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu.” (QS. Al-Hujurat: 15).

3. Qabul (menerima) apa yang ditunjukkan oleh makna kalimat tersebut yakni beribadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla semata dan tidak beribadah kepada yang selainNya. Barangsiapa yang mengucapkannya tetapi ia tidak menerima bahwa hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla saja kita beribadah, berarti ia termasuk dalam kelompok yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla dalam ayatNya,

اِنَّهُمْ كَانُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ ۙ يَسْتَكْبِرُوْنَ ۙ (٣٥) وَيَقُوْلُوْنَ اَئِنَّالَتٰرِ كُوْٓا اٰلِهَتِنَا لِشَا عِرٍمَّجْنُوْنٍ ۗ (٣٦)

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, ‘laa ilaaha illallaah’ (tiada sesembahan yang haq melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, ‘apakah  sesungguhnya kami harus meninggalkan sembah-sembahan kami karena seorang penyair gila?’” (QS. Ash-Shaffat: 35-36).

4. Inqiyad (patuh) terhadap makna yang ditunjukkannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَنْ يُّسْلِمْ وَجْهَهٗٓ اِلَى اللّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan ia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman: 22)

Makna يُسْلِمْ وَجْهَهُ  (menyerahkan diri) adalah يَنْقَادُ وَيَخضَعُ (tunduk dan patuh), sedangkan اَلْعُرْوَةُ الْوُثْقَى  (buhul tali yang kokoh) adalah ‘laa ilaaha illallaah’.

5. Shidq (jujur), yaitu hendaknya orang yang mengucapkan kalimat ini benar-benar jujur dari dalam hatinya, sebagaimana disabdakan Nabi ﷺ,

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللّٰهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang beraksi bahwa tidak ada  sesembahan yang haq melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah hambah dan utusanNya secara jujur dari dalam hatinya, kecuali Allah mengharamkan dirinya dari Neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

6. Ikhlash, yaitu membersihkan amal dari segala debu syirik, yaitu dengan cara tidak mengucapkan kalimat tersebut karena tujuan duniawi, Rasulullah ﷺ bersabda,

إِنَّ اللّٰهَ حَرَّمَ عَلَى النَّارِمَنْ قَالَ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ، يَبْتَغِي بِذٰ لِكَ وَجْهَ اللّٰهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas Neraka orang yang mengucapkan ‘laa ilaaha illallaah’ (dengan ikhlas dari hatinya) kerana mengharapkan (pahala melihat) Wajah Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

7. Mahabbah (cinta) pada kalimat ini, serta isinya, juga mencintai orang-orang yang mengamalkan konsekuensinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِ يْنَ ءَامَنُوٓا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Maka ahli tauhid mencintai Allah ‘Azza wa Jalla dengan cinta yang tulus bersih. Sedangkan ahli syirik menyekutukan Allah dan mencintai sembahan-sembahan yang lain di samping Allah ‘Azza wa Jalla. Dan ini tentu bertentangan dengan kandungan makna ‘laa ilaaha illallaah’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *