keutamaan menuntut ilmu

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

Hadits

KEUTAMAAN MENUNTUT ILMU

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًايَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًاسَهَّلَ اللّٰهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًاإِلَى الْجَنَّةِ. وَمَااجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتِ مِنْ بُيُوْتِ اللّٰهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللّٰهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّانَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُوَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُوَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُوَذَكَرَهُمُ اللّٰهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَبِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرَعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketentraman akan turun atas mereka, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyanjung mereka di tengah para malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.” (HR. Muslim)

Allah ‘azza wajalla berfirman:

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَآاِلٰهَ اِلَّاهُوَ ۙ وَالْمَلٰٓئِكَةُ وَاُولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًابِۢالْقِسْطِ ۗ لَآاِلٰهَ اِلَّاهُوَ الْعَزِيْزُالْحَكِيْمُ

Artinya: “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 18)

Pada ayat diatas Allah ‘azza wajalla meminta orang yang berilmu bersaksi terhadap sesuatu yang sangat agung untuk diberikan kesaksian, yaitu keesaan Allah ‘azza wajalla. Ini menunjukkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu.

Imam Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata, “Orang yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah di antara hamba-Nya dalah para Nabi dan ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌعَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim” (HR.Ibnu Majah: 224, dishahihkan oleh al-Al-bani dalam shahih al-jami’ no.3913)

Kisah Imam asy Syafi’I rahimahullah yang beliau berkata, “Saya seorang yatim yang tinggal bersama ibuku. Ia menyerahkan saya ke kuttab (sekolah yang ada dimasjid). Beliau tidak memiliki sesuatu yang bias diberikan kepada sang pengajar sebagai upahnya mengajari saya. Saya mendengar hadits atau pelajaran dari sang pengajar, kemudian saya menghafalnya. Ibu saya tidak memiliki sesuatu untuk membeli kertas. Maka setiap saya menemukan sebuah tulang putih, saya ambil  dan menulis di atasnya. Apabila sudah penuh tulisannya, saya menaruhnya di dalam botol yang sudah tua.”

Dan masih banyak lagi dalil-dalil yang menerangkan tentang keutamaan menuntut ilmu.

Wallahu a’lam bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *