kebenaran hanya milik Allah

KEBENARAN HANYA MILIK ALLAH

Aqidah

MENYERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH ﷻ DAN RASULNYA ﷺ

Barangsiapa yang menginginkan sesuatu yang tidak diperlihatkan ilmu tentangnya dan tidak puas dengan menyerahkan pemahamannya, akibatnya dia akan dihalangi oleh keinginannya tersebut dari tauhid yang murni dan ma’rifat yang bersih serta Iman yang shahih.

Maksudnya, orang yang tidak beriman dengan apa yang ilmunya dihijab dari dirinya, seperti ilmu tentang cara (dan bentuk) dari sifat Allah ‘Azza wa Jalla. Yang wajib bagi kita adalah mengimaninya dan mengembalikan ilmu tentangnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًا

“Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahwa itu kebenaran dari Rabb mereka. Tetapi mereka yang kafir berkata, ‘Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?’.” (QS. Al-Baqarah: 26)

Dan Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

هُوَ الَّذِ يْۤ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبِ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَاتَشَا بَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآ ءَتَأْوِيْلِهٖ ۚ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ

“Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu. Diantara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat (yang jelas hukumnya) itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat (yang tidak jelas maknanya). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka megikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah.” (QS. Ali Imran: 7).

Allah ‘Azza wa Jalla menghijab ilmuNya dari semua makhluk maka anda tidak usah menyusahkan diri anda (untuk mencarinya). Kemudian Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَالرّٰ سِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّابِهٖ ۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا

“Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, ‘Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Rabb kami’.” (QS. Ali Imran: 7)

Mereka menyerahkan dan berserah diri sepenuhnya, dan mereka sama sekali tidak terhalang oleh ketidaktahuan tentang maknanya untuk beriman dan menyerahkan semuanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Atau maknanya adalah bahwasanya mereka mengembalikan ayat-ayat yang mutasyabihat dari Kitab Allah ‘Azza wa Jalla tersebut kepada yang muhkamat dari ayat-ayat tersebut, untuk mereka tafsirkan dan agar menjadi jelas maknanya. Dan mereka mengatakan, semua itu dari sisi Rabb kami.

Barangsiapa yang tidak menyerahkan semuanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak juga kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka orang tersebut dihalangi (dihijab) untuk mengetahui (ma’rifat) Allah ‘Azza wa Jalla dan mengetahui kebenaran, sehingga dia menjadi orang yang kehilangan arah dan jatuh dalam kesesatan.

Inilah kondisi orang-orang munafik yang berada dalam kebimbangan, terkadang bersama kaum Muslimin dan terkadang bersama orang-orang munafik, kadang dia membenarkan dan kadang mendustakan.

كُلَّمَآ اَضَآ ءَلَهُمْ مَّشَوْا فِيْهِ ۙ وَاِذَآ اَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوْا

“Setiap kali matahari itu  menyinari mereka, mereka berjalan dibawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.” (QS. Al-Baqarah: 20)

Sedangkan orang-orang yang beriman, apa yang mereka ketahui mereka berpandangan dengannya, dan apa yang mereka tidak ketahui mereka serahkan ilmunya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka tidak membebankan diri mereka sedikitpun dengan apa yang mereka tidak ketahui. Mereka juga tidak berkata atas nama Allah ‘Azza wa Jalla dengan apa yang mereka tidak ketahui, karena berkata atas nama Allah ‘Azza wa Jalla adalah setimpal dengan syirik, bahkan lebih besar dari syirik.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَا حِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِ كُوْا بِا للّٰهِ مَالَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًاوَّ اَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَالَاتَعْلَمُوْنَ

“Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui’.” (QS. Al-A’raf: 33)

(Dalam ayat ini) Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan perkataan (atau mengada-ada) atas nama Allah ‘Azza wa Jalla tanpa ilmu lebih haram melampaui syirik; yang semua itu menunjukkan bahayanya berkata (mengada-ada) atas nama Allah ‘Azza wa Jalla tanpa ilmu.

Wallahu a’lam bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *