Kandungan Surah Al-Faatihah

KANDUNGAN SURAH AL-FAATIHAH

Tafsir

KANDUNGAN SURAH AL-FAATIHAH

(Pasal) Surat yang mulia yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian, pemuliaan, dan sanjungan bagi Allah ‘Azza wa Jalla dengan menyebut nama-nama-Nya yang husna (baik) dan sifat-sifat-Nya yang ‘Ulya (tinggi). Juga mencakup tempat kembali manusia, yaitu hari Pembalasan. Selain itu, di dalamnya berisi bimbingan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka memohon dan tunduk kepada-Nya, serta melepaskan upaya dan kekuatan diri mereka untuk selanjutnya dengan tulus ikhlas mengabdi kepada-Nya, mengesakan-Nya dan menyucikan-Nya dari sekutu atau tandingan. Juga berisi bimbingan agar mereka memohon petunjuk kepada-Nya menuju jalan yang lurus, yaitu agama yang benar serta menetapkan mereka di atas jalan tersebut. Sehingga ditetapkan bagi mereka untuk dapat menyeberangi jalan yang nyata pada hari Kiamat kelak menuju Surga yang penuh dengan kenikmatan, di sisi para Nabi, shiddiiqiin, syuhadaa’ dan orang-orang shalih.

Kandungan Surah Al-Faatihah merupakan targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal shalih agar mereka dapat bergabung dengan orang-orang yang beramal shalih pada hari Kiamat kelak. Serta memperingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebathilan, agar mereka tidak digiring bersama orang-orang yang menempuh jalan tersebut pada hari Kiamat, yaitu mereka yang dimurkai  dan sesat.

MENYANDARKAN NIKMAT KEPADA ALLAH DAN TIDAK MENYANDARKAN PENYESATAN KEPADA-NYA SERTA BANTAHAN TERHADAP QADARIYYAH

Betapa bagusnya penyandaran nikmat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam firman-Nya:

صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka,” dan penghapusan fa’il (pelaku) pada kata murka dalam firman-Nya:

غَيْرِالْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ

“Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai,” meskipun dalam hal ini fa’il yang sebenarnya adalah Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana Dia berfirman:

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ تَوَلَّوْ اقَوْمًا غَضِبَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ

“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang (munafik) yang menjadikan suatu kaum yang telah dimurkai Allah sebagai sahabat?,” (QS. Al-Mujaadilah: 14)

Demikian juga penyandaran kesesatan kepada pelakunya, meskipun kesesatannya itu telah Allah takdirkan, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

مَنْ يَّهْدِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۚ وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَلَهٗ وَلِيًّامُّرْشِدًا

“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)

Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman:

مَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَلَا هَا دِيَ لَهٗ ۗ وَيَذَرُهُمْ فِيْ طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُوْنَ

“Barangsiapa yang dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk. Allah membiarkannya terombang ambing dalam kesesatan.” (QS. Al-A’raaf: 186)

Demikianlah keadaan orang-orang yang sesat dan menyimpang itu. Telah disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُو لئِكِ الَّذِيْنَ سَمَّى اللّٰهُ، فَاحْذَرُوْهُمْ

“Apabila kalian menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabihat, maka mereka itulah yang dimaksud oleh Allah, maka jauhilah mereka.”

Yakni yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala:

فَاَمَّاالَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَاتَشَا بَهَ مِنْهُ ابْتِغَآءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَآءَ تَأْوِيْلِهٖ ۚ وَمَايَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗۤ اِلَّا اللّٰهُ

“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat, untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 7)

Dan al-hamdulillah, tidak ada satu pun hujjah yang shahih dalam Al-Qur’an bagi para ahli bid’ah, karena Al-Qur’an diturunkan untuk menjelaskan antara yang haq dan yang bathil dan membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Didalamnya tidak ada pertentangan dan perbedaan, karena Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *