Tafsir Isti'aadzah

ISTI’AADZAH

Tafsir

TAFSIR AL-ISTI’AADZAH (Ta’awudz)

أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk”

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ . وَاِمَّا يَنْزَ غَنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَا سْتَعِذْ بِاللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu  ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi  Maha Mengetahui.” (QS. Al-A’raaf: 199-200)

Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan manusia agar beramah tamah dengan musuh dari kalangan manusia dan berbuat baik kepadanya, sehingga dapat mengembalikannya pada tabi’at aslinya,  yakni sebagai teman dan sahabat. Sebaliknya, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan agar memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan jenis jin. Karena dia tidak menerima ramah-tamah maupun kebaikan. Ia tidak menghendaki sesuatu pun, kecuali kebinasaan anak Adam.

Hal ini disebabkan karena kerasnya permusuhan antara dia dengan anak Adam, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَكُمْ عَدُوٌّفَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا ۗ اِنَّمَا يَدْعُوْا حِزْبَهٗ لِيَكُوْنُوْا مِنْ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala.” (QS. Faathir: 6)

Syaitan telah bersumpah kepada bapak kita Adam ‘Alaihissalam bahwa dia adalah pemberi nasihat baginya, padahal dia berdusta. Lalu bagaimana pula mu’amalah syaitan dengan kita? Sementara mereka telah berkata: (فَبِعِزَّتِكَ لَاُغْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ . اِلَّاعِبَا دَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِيْنَ .) “Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.” (QS. Shaad: 82-83).

Apakah Isti’aadzah itu wajib atau sunnah?

Jumhur ulama berpendapat bahwa Isti’aadzah itu hukumnya sunnah dan bukan suatu kewajiban yang apabila seseorang meninggalkannya, maka ia berdosa. Ar-Razi menceritakan dari ‘Atha’ bin Abi Rabah tentang wajibnya isti’aadzah di dalam shalat dan diluar shalat ketika hendak membaca Al-Qur’an. Ar-Razi berhujjahdengan riwayat ‘Atha’, yaitu dengan zhahir ayat: فَاسْتَعِذْ “Maka hendaklah kamu meminta perlindungan”. Ini adalah perintah yang zhahirnya wajib. Juga karena Rasulullah ﷺ rutin melakukannya. Dan isti’aadzah dapat menolak keburukan syaitan. Sedangkan suatu perkara yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka perkara itupun wajib. Di samping itu Isti’aadzah merupakan tindakan kehati-hatian. Maka, jika seorang yang berlindung mengucapkan: “أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ,” maka itu sudah cukup.

Di Antara Manfaat Isti’aadzah

Di antara manfaatnya adalah untuk menyucikan dan mengharumkan mulut dari kata-kata yang buruk dan tidak berfaedah. Isti’aadzah ini digunakan untuk membaca firman-firman Allah ‘Azza wa Jalla sekaligus menyatakan pengakuan atas kekuasaan-Nya, kelemahan dirinya sebagai seorang hamba dan ia tidak berdaya melawan musuh yang sejati (syaitan), yang bersifat bhatin (tidak terlihat) dan tidak seorang pun mampu menolak dan mengusirnya kecuali Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menciptakannya. Karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan. Berbeda denga musuh dari jenis manusia.

Isti’aadzah berarti permohonan perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari kejahatan setiap yang jahat. Al-‘iyaadzah adalah permohonan pertologan dalam usaha menolak kejahatan, dan al-liyaadz adalah permohonan pertolongan dalam meraih kebaikan.

Makna isti’aadzah

Adalah aku memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan atau menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang. Karena tidak ada yang mampu mencegah godaan syaitan itu dari manusia kecuali Allah.

Oleh karena itu Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada manusia agar membujuk syaitan dari jenis manusia dan berbuat baik kepadanya, sehingga dapat merubah tabi’at dan kebiasaannya mengganggu orang lain. Tetapi, Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan agar kita memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan jenis jin. Karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat mempengaruhi dangan kebaikan. Tabi’at mereka jahat dan tidak ada yang dapat mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang telah menciptakannya.

 Penamaan syaitan, Dalam bahasa arab, kata syaitan berasal dari kata شَطَنَ yang berarti jauh. Jadi tabi’at syaitan sangat jauh dengan tabi’at manusia. Dan karena kefasikannya itu ia sangat jauh dari kebaikan. Oleh karena itu mereka (bangsa arab) menyebut syaitan untuk setiap pendurhaka baik dari kalangan jin, manusia maupun hewan. Allah subhanahu wata’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَالِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُ وًّاشَيٰطِيْنَ الْاِنْسِ وَالْجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوْرًا

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap Nabi itu musuh yaitu syaita-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’aam: 112)

Makna Ar-Rajiim, Ar-Rajiim berwazan فَعِيْلٌ (subyek) bermakna مَفْعُوْلٌ (obyek). Maknanya bahwa syaitan itu terkutuk dan terjauh dari segala kebaikan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّازَيَّنَّاالسَّمَاءَالدُّ نْيَابِزِينَةٍالْكَوَاكِبِ. وَحِفْظًامِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ مَارِدٍ. لَايَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَاِالْاَعْلٰى وَيُقْذَ فُوْنَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ. دُحُوْرًاوَّلَهُمْ عَذَابٌ وَّاصِبٌ. اِلَّامَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهٗ شِهَابٌ ثَاقِبٌ.

“Sesungguhnya Kami telah menghias langit dunia (yang terdekat), dengan hiasan bintang-bintang.  Dan (Kami) telah menjaganya dari setiap syaitan yang durhaka, mereka (syaitan-syaitan itu) tidak dapat mendengar (pembicaraan) para malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru, Untuk mengusir mereka dan mereka akan mendapat azab yang kekal, kecuali (syaitan) yang mencuri (pembicaraan); maka ia dikejar oleh bintang yang menyala.” (QS. Ash-Shaffat: 6-10)

Dan ayat-ayat lainnya.

Ada juga yang berpendapat bahwa رَجِيْمٌ bermakna رَاجِمٌ . Karena ia mengganggu manusia dengan waswas dan bisikan. Hanya saja makna yang pertama lebih masyhur dan lebih tepat.

Wallahu a’lam bisshawaab.