isra' mi'raj

Isra’ Mi’raj Rasulullah ﷺ

Aqidah

Menetapkan Isra’ Dan Mi’raj Bagi Rasulullah ﷺ

Isra’ maknanya adalah: berjalan dimalam hari. Nabi ﷺ telah diperjalankan dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) dalam satu malam.

Rasulullah ﷺ diperjalankan oleh Jibril ‘Alaihissalam dengan perintah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًامِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa.” (QS. Al-Isra’: 1)

Ini adalah di antara mukjizat beliau; karena jarak tempuh ini biasa di tempuh selama sebulan lebih perjalanan biasa, sedangkan Rasulullah ﷺ menempuhnya hanya dalam satu malam.

Adapun Mi’raj adalah: alat mendaki dan عَرَجَ  (naik) maknanya adalah صَعِدَ (mendaki).

تَعْرُجُ الْمَلٰۤئِكَةُ وَ الرُّوْحُ اِلَيْهِ

“Para Malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabbnya.” (QS. Al-Ma’arij: 4)

تَعْرُجُ dalam ayat ini maknanya adalah تَصْعَدُ , sehingga اَلْعُرُوْجُ maknanya adalah اَلصُّعُوْدُ. Dengan demikian اَلْمِعْرَاجُ maknanya adalah alat yang digunakan untuk naik.

Dan keduanya (Isra’ dan Mi’raj) adalah tsabit bagi Rasulullah ﷺ.

Isra’ adalah dari Masjidil Haram ke Masjidil  Aqsha, sedangkan Mi’raj adalah dari bumi ke langit. Semua ini terjadi dalam satu malam, Rasulullah ﷺ diIsra’kan ke Baitul Maqdis dan disana beliau shalat mengimami para Nabi, kemudian beliau diMi’rajkan ke langit dan melewati tujuh tingkat langit, di mana Allah ‘Azza wa Jalla memperlihatkan kepada beliau tanda-tanda kekuasaanNya sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla memperlihatkan kepada beliau tanda KuasaNya yang terbesar. Kemudian beliau turun ke bumi, di mana Jibril ‘Alaihissalam membawa beliau kembali ke tempat di mana beliau diIsra’kan, dan itu terjadi dalam satu malam.

Tentang Al-Isra’ disebutkan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam surah Al-Isra’, sedangkan tentang Al-Mi’raj disebutkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam surah An-Najm:

وَا لنَّجْمِ اِذَا هَوٰى ﴿۱﴾ مَاضَلَّ صَا حِبُكُمْ وَمَا غَوٰى ﴿۲﴾ وَمَايَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ﴿٣﴾ اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى ﴿٤﴾ عَلَّمَهٗ شَدِيْدُ الْقُوٰى ﴿٥﴾ ذُوْمِرَّةٍ ۗ فَاسْتَوٰى ﴿٦﴾ وَهُوَ بِالْاُفُقِ الْاَعْلٰى ﴿٧﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَىّٰى ﴿٨﴾ فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ اَوْاَدْنٰى ﴿٩﴾ فَاَوْحٰۤى اِلٰى عَبْدِهٖ مَآ اَوْحٰى ﴿۱٠﴾۱

“Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak (pula) keliru, Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadannya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang memiliki akal yang cerdas; dan Jibril itu menampakkan diri dalam rupa yang asli, sedangkan dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat (pada Muhammad), lalu bertambah dekat lagi, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah.” (QS. An-Najm: 1-10)

Maka al-Isra’ dan al-Mi’raj adalah haq (benar) adanya, dan barangsiapa yang mengingkarinya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang jauh (tidak mungkin) maka dia kafir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa yang mentakwilkannya maka dia tersesat, dan tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang musyrik. Maka barangsiapa yang mengatakan, Nabi diIsra’kan dengan ruhnya saja tanpa jasadnya, atau itu adalah dalam mimpi, maka perkataan ini adalah sesat; karena Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Yang telah memperjalankan hambanya” dan hamba adalah sebutan yang mencakup ruh dan badan, tidak mungkin ruh dikatakan hamba. Dan Isra’ terjadi dalam keterjagaan dan bukan merupakan mimpi; karena mimpi tidak memiliki kelebihan cukup berarti sebagai i’tibar; karena mimpi bisa terjadi pada semua orang dan dalam mimpi orang-orang melihat banyak hal-hal aneh, dan bukan khusus hanya bagi Nabi ﷺ.

Beliau diMi’rajkan dengan diri beliau, sebagai bantahan atas orang-orang yang mengatakan, beliau hanya diMi’rajkan dengan ruhnya saja. Yang benar adalah bahwa beliau diMi’rajkan dengan diri beliau, dan diri mencakup ruh dan jasmani. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

اَسْرٰى بِعَبْدِهِ

“Yang telah memperjalankan hambaNya.” (Al-Isra’: 1)

Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada beliau di tempat itu (di Sidratul Muntaha) apa yang diwahyukanNya. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berbicara kepada beliau akan tetapi beliau tidak melihat Allah ‘Azza wa Jalla; Karena Allah ‘Azza wa Jalla tidak dapat dilihat di dunia.

Inilah al-Mi’raj yang disebutkan di dalam surah An-Najm.

Wallahu a’lam bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *