Fiqih tentang najis

BAB TENTANG NAJIS

Fiqih

Bab Tentang Najis ini akan di bahas mengenai pengertian dan jenis-jenis najis.

Bab Tentang Najis Yang Pertama Adalah, Pengertian Najis

Pengertian Najis, Maksud dari an-najasah (sesuatu yang najis) adalah al-qadzarah (sesuatu yang kotor). Seorang muslim harus berusaha menjauhkan diri darinya dan mencuci apa yang terkena olehnya (najis). Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan bersihkanlah pakaian -pakaianmu,” (QS. Al-Muddatsir [74]: 4)

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ اتَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri,” (QS. Al-Baqarah: 222)

Rasulullah ﷺ bersabda,

اَلطَّهُوْرُ شَطْرُ الْإِيْمَانِ

“Kesucian adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)

Ada banyak pembahasan tentang najasah, antara lain sebagai berikut.

Bab Tentang Najis Yang Berikutnya Adalah, Jenis-jenis Najis

a. Bangkai

Bangkai adalah binatang yang mati tanpa disembelih. Tubuh binatang yang dipotong hidup-hidup termasuk dalam kategori bangkai juga. Abu Waqid al-Laitsi meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا قُطِعَ مِنَ الْبَهِيْمَةِ، وَهِيَ حَيَّةٌ، فَهُوَ مَيْتَةٌ

“Apa yang dipotong dari tubuh binatang yang masih hidup adalah bangkai.” (HR. Abu Dawud)

Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini diamalkan oleh para ulama. Namun begitu, ada pengecualian dari persoalan bangkai  diatas, yaitu sebagai berikut.

1. Bangkai ikan dan belalang. Keduanya suci. Ibnu umar Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

أُحِلَّ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّاالْمَيْتَتَانِ فَالْحُوْتُ وَالْجَرَادُ، وَأَمَّاالدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ

“Ada dua bangkai dan dua darah yang halal bagi kita; kedua bangkai itu adalah ikan dan belalang; sedangkan dua darah itu adalah hati dan jantung.” (HR. Ibnu Majah)

Di dalam hadits telah disebutkan sebelumnya, Rasulullah ﷺ bersabda,

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاءُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut itu suci dan menyucikan. Segala bangkai (air laut) itu halal.”

2. Bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir, seperti semut dan tawon. Bangkai binatang-binatang ini suci. Jika ia jatuh pada makanan atau minuman, bangkai itu tidak membuatnya najis.

3. Status hukum tulang, tanduk, kuku, bulu, kulit bangkai binnatang tersebut dan yang sejenisnya adalah suci. Hal itu karena hukum asal dari benda-benda tersebut adalah suci; tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa benda-benda tersebut adalah najis.

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Seekor kambing yang diberikan kepada budak perempuannya, maimunah, mati. Rasulullah ﷺ lewat dan berkata, ‘Kenapa kalian tidak mengambil kulitnya? Kalian bisa menyamaknya dan menggunakannya.’ Para sahabat berkata kepada Rasulullah ﷺ, ‘Kambing itu telah menjadi bangkai.’ Kata Rasulullah ﷺ, ‘(Bangkai) yang haram itu hanya jika dimakan.’” (HR. Bukhari)

Suatu ketika Ibnu Abbas membaca sebuah ayat,

قُلْ لّآ اَجِدُفِيْ مَآاُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْدَمًامَّسْفُوْحًا اَوْلَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْفِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ

“Katakanlah, ‘Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah.’” (QS. Al-An’am [6]: 145)

Kemudian ia berkata, “(Bangkai) yang haram hanyalah jika dimakan. Adapun kulit, tempat yang dibuat darinya, gigi, tulang, bulu dan wol adalah halal.”

b. Darah

Darah yang di maksud di sini termasuk darah yang mengalir (mashfuh), seperti darah yang mengalir ketika binatang disembelih dan darah haidh. Namun begitu, hukum darah yang sedikit adalah di-ma’fu (dimaafkan).

Berkaitan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla, “…atau darah yang mengalir…” (QS. Al-An’am: 145), Ibnu Juraij berkata, “Kata masfuh mengandung arti darah yang dialirkan. Jadi, hukum darah yang ada didalam tulang adalah tidak najis.”

Berkaitan dengan darah yang ada di dalam seekor kambing yang disembelih atau darah yang mengapung saat daging itu dimasak, Abu Mujliz berkata, “Tidak apa-apa. Darah yang diharamkan adalah darah yang dialirkan (masfuh).” Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Kami memakan daging, sedangkan darah mengambang diatas kuali.”

Hasan berkata, “Kaum muslimin tetap melakukan shalat dalam kondisi luka berdarah.”

c. Daging Babi

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ لّآ اَجِدُفِيْ مَآاُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْدَمًامَّسْفُوْحًا اَوْلَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْفِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ

“Katakanlah, ‘Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati (bangkai), darah yang mengalir, daging babi; karena semua itu kotor atau hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah.’” (QS. Al-An’am [6]: 145)

d. Muntah, Kencing dan Kotoran Manusia

Semua ulama sepakat bahwa hukum tiga benda tersebut adalah najis. Namun begitu, muntah yang sedikit masih dapat di-ma’fu (dimaafkan). Ada juga kencing anak kecil yang diringankan hukumnya; untuk membersihkannya cukup dengan menyiramnya dengan air yang sedikit.

Suatu ketika, Ummu Qais Radhiyallahu ‘Anha mendatangi Rasulullah ﷺ dengan membawa anak laki-lakinya yang masih kecil. Anak itu belum mengkonsumsi makanan selain air susu ibu. Anak kecil itu kemudian kencing di pangkuan Rasulullah ﷺ. Beliau lalu meminta air dan menyirami bajunya, Beliau tidak mencucinya.

Ali Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

بَوْلُ الْغُلَامِ يُنْضَحُ وَبَوْلُ الْجَارِيَةِ يُغْسَلُ

“Kencing anak kecil laki-laki hanya disiram, sedangkan kencing anak kecil perempuan harus dicuci.” (HR. Abu Dawud)

e. Wadi

Wadi adalah cairan kental putih yang keluar setelah kencing. Menurut kesepakatan para ulama, hukum cairan tersebut adalah najis.

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan, “Wadi keluar setelah kencing. Seseorang harus mencuci batang zakar dan buah zakar. Tetapi, ia tidak wajib mandi besar.”

Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan, “Mani mewajibkan seseorang untuk mandi, sedangkan mazi dan wadi harus disucikan dengan sempurna.” Dalam redaksi yang lain ia berkata ketika ditanya tentang hukum wadi dan mazi, “Basuhlah zakar dan kedua buah zakarmu, lalu berwudhulah, seperti jika engkau berwudhu ketika akan melaksanakan shalat.”

f. Mazi

Mazi adalah cairan putih kental yang keluar ketika seseorang sedang berfantasi tentang persetubuhan, atau ketika seseorang sedang melakukan hubungan intim (mula’abah). Terkadang, seseorang tidak menyadari keluarnya cairan tersebut. Cairan tersebut bisa keluar dari laki-laki atau perempuan, namun cairan ini lebih banyak dikeluarkan oleh perempuan.

Ali Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Aku adalah laki-laki yang sering sekali mengeluarkan mazi, kemudian aku menyuruh seseorang untuk menemui Rasulullah ﷺ, dan bertanya. Aku malu untuk bertanya sendiri karena putri beliau, Fatimah, adalah istriku. Ketika lelaki itu bertanya, beliau menjawab, ‘Berwudhulah. Cukup kamu cuci zakarmu.’” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.

Sahl bin Hanif Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan, “Aku dipersulit dengan keluarnya cairan mazi yang terus-menerus. Setiap kali aku keluar mazi, aku mandi besar. Aku bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Beliau berkata, ‘Kamu cukup berwudhu.’ Aku berkata kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana dengan mazi yang menyentuh baju saya?’ Beliau menjawab, ‘Kamu cukup ambil segenggam air, bilaslah bajumu yang terkena cairan itu.’” (HR. Abu Dawud)

g. Mani

Sebagian ulama mengatakan bahwa mani adalah najis. Tetapi, pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan bahwa mani adalah suci. Namun begitu, kita dianjurkan untuk membasuh mani yang masih basah, atau membersihkan mani yang sudah kering.

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Aku membersihkan mani dengan cara dikerik dari baju Rasulullah ﷺ jika mani itu sudah kering. Dan aku membasuhnya jika mani itu masih basah.”

h. Anjing

Setiap benda yang dijilat anjing harus dicuci sebanyak tujuh kali, dan salah satunya adalah dengan tanah. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ

“Tempat (minum) kalian akan suci, jika ada anjing yang minum darinya, yaitu apabila kalian mencucinya sebanyak tujuh kali, dan yang pertama dicampur dengan tanah.”

Jika sesuatu yang dijilat oleh anjing tersebut adalah makanan padat, maka letak jilatan dan sekitarnya harus dibuang. Sementara itu, sisanya masih bisa digunakan.

Demikian dua hal yang di bahas kali ini dalam Bab tentang Najis semoga bisa menambah ilmu dan iman kita dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Wallahu a’lam bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *