Shalat

FIQIH SHALAT

Fiqih

Fiqih Shalat Tentang Syarat Wajib Shalat

Dalam Fiqih Shalat tidak wajib kecuali orang yang telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Islam. Shalat tidak wajib bagi orang kafir, meskipun mereka akan disiksa dengan siksa yang pedih karena meninggalkannya.

2. Berakal. Shalat tidak wajib bagi orang gila atau orang pingsan, jika gila dan pingsannya terjadi terus menerus sampai melewati waktu shalat.  Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa  jika seseorang gila atau pingsan pada seluruh waktu shalat tertentu, maka gugurlah kewajiban shalat yang waktunya terlewatkan tesebut. Sementara menurut ulama hanafiyah tidak gugur kewajiban shalatnya kecuali jika gila atau pingsannya telah melewati enam waktu shalat. Tetapi bila telah melewati enam waktu shalat, maka gugurlah kewajiban shalat dan tidak pula berkewajiban mengqadha shalat tersebut. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةِعَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّغِيرِحَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ

“Terangkat pena (tidak dicatat perbuatan) dari tiga orang; orang yang tertidur sampai dia bangun, bayi sampai dia mengalami mimpi basah (baligh), dan orang gila sampai dia sembuh.” (HR. Ahmad dan Ashhabus Sunan dan dihasankan oleh Tirmidzi dan Hakim. Hakim berkata bahwa hadits ini shahih dari jalur Bukhari dan Muslim).

3. Baligh. Shalat juga tidak wajib bagi bayi sebelum dia baligh. Hanya saja orang tuanya (walinya) harus memerintahkannya untuk melakukan shalat ketika telah berumur enam tahun dan telah mumayyiz. Bila usia anak tersebut telah mencapai sepuluh tahun, maka orang tuanya harus memukulnya jika dia meninggalkan shalat. Hal itu dilakukan untuk mengajari dan membiasakannya agar kelak ketika dewasa dia tidak meninggalkan shalat. Sebagaimana riwayat dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ ، وَاضْرِبُوْهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anakmu untuk mengerjakan shalat jika usianya telah mencapai tujuh tahun, dan pukullah jika usianya telah mencapai sepuluh tahun (jika dia meninggalkan shalat), serta pisahkanlah tempat tidur mereka (antara anak laki-laki dan perempuan).” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim).

4. Sampai ajakan shalat kepadanya. Artinya, telah sampai kepadanya perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengerjakan shalat. Sebagaimana Allah Azza wajalla berfirman:

وَلَاتَزِرُوَازِرَةٌوِّزْرَاُخْرٰى ۗ وَمَاكُنَّامُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“Dan seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (QS. Al-Isra’: 15)

5. Tidak sedang haid dan nifas. Wanita yang sedang haid dan nifas tidak wajib shalat, baik shalat pada waktunya atau mengqadhanya. Berbeda dengan puasa, maka dia wajib mengganti puasanya.

6. Panca inderanya normal (sejak lahir). Orang yang tidak normal panca inderanya, seperti orang yang buta dan tuli sekaligus, maka tidak wajib shalat baginya.

Wallahu a’lam bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *