Bersatu Diatas Tauhid

Artikel

Perintah Untuk Bersatu Dalam Agama

Allah memerintahkan untuk bersatu di dalam agama ini, dan melarang dari berpecah belah di dalam agama, agar musuh-musuh islam takut untuk mengadu domba umat islam. Oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang memuaskan, yang orang awam dapat memahaminya. Pondasi ini terdapat di dalam Al-Qur`an. Allah ta’ala berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبۡلِ اللهِ جَمِيْعًاوَّلَا تَفَرَّقُوْا 

“Dan berpeganglah kalian semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخۡتَلَفُوْا

“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih.” (QS. Ali ‘Imran: 105).

اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًالَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍ ۗ اِنَّمَآ اَمْرُهُمْ اِلَى اللّٰهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah.” (QS. Al-An’am: 159).

شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِ يْٓ أۡوْ حَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰ هِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّ يْنَ وَلَا تَتَفَرَّ قُوْا فِيْهِ

“Dia (Allah) telah mensyariatkan bagi kalian tentang agama ini yang telah Dia wasiatkan kepada Nuh, dan yang telah Allah wahyukan kepadamu, serta apa yang Allah wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, ‘Isa, yaitu agar kalian menegakkan agama ini dan janganlah kalian bercerai-berai di dalamnya.” (QS. Asy-Syura: 13).

Jadi, tidak boleh bagi kaum muslimin untuk berpecah belah di dalam agama mereka. Bahkan wajib agar mereka menjadi satu umat di atas tauhid.

اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةًوَّا حِدَةً ۖ وَّاَنَاْ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ

“Sesungguhnya ini adalah agama kalian; agama yang satu. Dan Akulah Rabb kalian, maka sembahlah Aku.” (QS. Al-Anbiya`: 92).

Tidak boleh bagi umat Rasulullah ﷺ untuk berpecah belah di dalam aqidah, ibadah, dan hukum-hukum agama. Yang ini mengatakan halal, sedang yang ini mengatakan haram tanpa dalil, Ini tidak boleh. Tidak diragukan bahwa perselisihan merupakan tabiat manusia, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

يَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ ۙ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ

“Mereka senantiasa berselisih kecuali orang-orang yang Rabbmu rahmati.” (QS. Hud: 118-119).

Akan tetapi perselisihan itu diselesaikan dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga jika di antara kita berselisih, maka wajib bagi kita untuk kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman:

فَاِنْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ

“Jika kalian berselisih dalam suatu perkara, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir.” (QS. An-Nisa`: 59).

Adapun apa yang dikatakan orang bahwa semua orang tetap berada di atas madzhabnya, semua orang tetap di atas akidahnya, dan manusia bebas dalam pendapat mereka dan menuntut kebebasan berakidah dan kebebasan berpendapat; maka ini adalah kebatilan yang Allah telah melarangnya. Allah berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبۡلِ اللهِ جَمِيْعًاوَّلَا تَفَرَّقُوْا

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Jadi wajib kita bersatu dalam menyodorkan perselisihan kita kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla sampai pun dalam masalah-masalah fiqih. Ketika kita berselisih dalam suatu masalah, lalu kita sodorkan kepada dalil-dalil. Kemudian barangsiapa yang didukung dalil, maka kita ikut bersamanya. Dan barang siapa yang menyalahi dalil, maka kita tidak boleh berpegang kepada suatu kekeliruan.

Sesungguhnya Allah jalla wa ‘ala tidak membiarkan kita berselisih dan bercerai-berai tanpa menetapkan bagi kita suatu timbangan yang dapat menjelaskan yang benar dari yang keliru. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla telah menetapkan Al-Qur`an dan As-Sunnah. “Maka kembalikanlah kepada Allah” yakni Al-Qur`an. “Dan Rasul” yakni As-Sunnah. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh aku telah tinggalkan untuk kalian sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan sesat sepeninggalku, yaitu Kitab Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an) dan Sunnahku.”

Maka, seakan-akan Rasulullah ﷺ berada di antara kita dalam bentuk Sunnah yang telah terkumpul, telah dishahihkan, dan telah dijelaskan. Dan ini merupakan karunia Allah subhanahu wa ta’ala untuk umat ini. Yaitu, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak membiarkan umat ini berada di dalam kebingungan, namun Dia membiarkan umat ini dalam keadaan di sisi-Nya ada yang menunjukkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menunjukkan kepada kebenaran. Adapun yang tidak menginginkan kebenaran dan menginginkan setiap orang tetap di atas madzhabnya dan keyakinannya, serta mengatakan: kita bersatu dalam apa yang kita sepakati dan masing-masing kita memberi udzur kepada yang lain dalam perkara yang kita perselisihkan; ini tidak diragukan merupakan perkataan yang salah. Maka yang wajib adalah kitab bersatu di atas Kitab Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ (Hadits). Sedangkan apa yang kita perselisihkan, kita kembalikan kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ (Hadits). Bukan malah masing-masing kita memberi udzur kepada yang lain dan tetap di atas perselisihan. Bahkan kita kembalikan kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ (Hadits).

Setiap apa yang mencocoki kebenaran kita berpegang dengannya, sedangkan apa yang merupakan kekeliruan kita rujuk darinya. Ini yang wajib bagi kita, sehingga umat ini tidak tetap dalam keadaan berselisih. Terkadang orang-orang yang mengajak untuk tetap berada di atas perselisihan menyebutkan hadits yang artinya: Perselisihan umatku adalah rahmat; hadits ini diriwayatkan akan tetapi tidak shahih.

Perselisihan bukanlah rahmat, perselisihan adalah azab. Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَاخۡتَلَفُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَاجَآ ءَهُمُ الْبَيِّنٰتُ

“Dan janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang bercerai berai dan berselisih setelah keterangan yang jelas datang kepada mereka.” (QS. Ali ‘Imran: 105).

Jadi perselisihan akan mencerai-beraikan hati-hati dan memecah belah umat. Dan jika manusia sudah berselisih, tidak mungkin mereka saling menolong dan saling membantu selamanya. Bahkan yang ada di antara mereka adalah permusuhan dan fanatik kepada kelompok dan golongan mereka. Mereka tidak akan saling tolong-menolong selama-lamanya. Mereka akan saling tolong-menolong hanya apabila bersatu dan berpegang kepada tali (agama) Allah ‘Azza wa Jalla seluruhnya. Inilah yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wasiatkan, beliau bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Allah meridhai kalian tiga perkara: kalian menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang kepada tali (agama) Allah ‘Azza wa Jalla seluruhnya dan tidak berpecah belah, dan kalian saling menasihati orang-orang yang Allah ‘Azza wa Jalla jadikan pemimpin kalian.” Inilah tiga perkara yang Allah ridhai untuk kita.

Yang menjadi pendukung dari tiga perkara tersebut adalah sabda beliau, “Kalian berpegang teguh kepada tali (agama) Allah ‘Azza wa Jalla seluruhnya dan tidak berpecah-belah.” Bukan makna hadits ini bahwa tidak ada perselisihan dan tidak ada perpecahan. Tabiat manusia adalah adanya perselisihan. Akan tetapi makna hadits ini adalah jika perselisihan dan perpecahan terjadi, maka diselesaikan dengan kembali kepada Kitab Allah ‘Azza wa Jalla (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (Hadits). Lalu pertentangan berhenti dan perselisihan pun berakhir. Inilah yang benar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *