Fiqih - Jihad Fisabilillah

JIHAD

Fiqih

Jihad berasal dari akar kata juhd, yang berarti kemampuan dan kesulitan/kesengsaraan. Dikatakan: Jahada yujahidu jihadan dan mujahadatan, artinya seseorang mencurahkan segenap kemampuan dan menahan kesulitan dalam memerangi musuh.

Syariat Jihad Dalam Islam

Allah ‘Azza wa Jalla mengutus Rasul-Nya kepada seluruh manusia, memerintahkannya agar menyeru kepada petunjuk dan agama kebenaran. Beliau menyeru kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan hikmah dan tutur kata yang baik selama di mekkah.

Ketika siksa semakin berat dirasa dan tekanan kian datang silih berganti hingga mencapai titik puncaknya dengan adanya konspirasi untuk membunuh Rasulullah ﷺ, maka beliau terpaksa berhijrah meninggalkan mekkah menuju madinah, dan memerintahkan para sahabat untuk berhijrah kesana setelah tiga belas tahun berlalu setelah beliau di utus.

Ketika berada di madinah –Ibu kota baru Islam- izin perang turun ketika musuh menyerang kaum muslimin demi membela keselamatan jiwa dan menjamin keamanan dakwah. Ayat pertama yang turun berkenan dengan hal ini adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla:

اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقٰتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْا ۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرُ. الَّذِيْنَ اُخْرِجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ اِلَّآ اَنْ يَّقُوْلُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللّٰهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَّهُدِّ مَتْ صَوَا مِعُ وَبِيَعٌ وَّصَلَوٰتٌ وَّمَسٰجِدُ يُذْكَرُ فِيْهَا اسْمُ اللّٰهِ كَثِيْرًا ۗ وَلَيَنْصُرَنَّ اللّٰهُ مَنْ يَّنْصُرُهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَقَوِيٌّ عَزِيْزٌ . اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ

“Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka didzalimi. Dan sungguh, Allah Maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) setiap manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang yahudi, dan masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Al-Hajj: 39-41)

Kemudian pada tahun kedua hijriah, Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Jihad melalui firman-Nya:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهُ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَ هُوْا شَيْئًاوَّهُوَ خَيْرٌلَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْئًاوَّهُوَ شَرٌّلَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu.  Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Jihad Hukumnya Fardhu Kifayah

Jihad tidak wajib bagi setiap individu muslim, hukumnya fardhu kifayah. Dengan kata lain, jika dilakukan oleh sebagian orang, musuh tertangkal dan dirasa sudah cukup, saat itu kewajiban Jihad gugur bagi yang lain. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَآفَّةً ۗ فَلَوْلَا نَفَرَمِنْ كُلِّ فِرْقَةٍمِّنْهُمْ طَآئِفَةٌلِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ

“Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semuanya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka telah kembali agar mereka dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah ﷺ mengirim utusan untuk memerangi Bani Lahyan –bagian dari kabila Hudzail, beliau bersabda: “Hendaklah setiap dua orang mengirim satu orang dan keduanya mendapat pahala (secara sama).”

Kapan Jihad Berhukum Fardhu’ain?

Hukum Jihad menjadi fardhu’ain dalam beberapa kondisi berikut ini:

1. Orang muslim mukallaf berada dalam barisan perang, saat ini jihad hukumnya fardhu’ain. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْقًافَلَا تُوَلُّوْ هُمُ الْاَدْبَارَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).” (QS. Al-Anfal: 15)

2. Ketika musuh datang ke tempat atau negeri kaum muslimin, saat itu penduduk negeri wajib keluar untuk memerangi musuh. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا زَحْقًافَلَا تُوَلُّوْ هُمُ الْاَدْبَارَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).” (QS. Al-Anfal: 15)

3. Ketika imam memerintahkan seseorang untuk pergi berperang, saat itu orang yang diperintah tidak memiliki pilihan untuk menolak seruan tersebut. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْ تُمْ فَانْفِرُوا

“Tidak ada hijrah setelah penaklukan (Mekkah), tapi jihad dan niat. Jika imam (penguasa) menyeru kalian untuk berperang maka berangkatlah.” (HR. Bukhari).

Siapa Yang Wajib Berjihad?

Jihad wajib bagi muslim lelaki, berakal, bhalig, sehat, memiliki dana yang cukup untuk keperluan pribadi dan keluarga agar bisa konsentrasi penuh dalam jihad. Berkenan dengan hal ini Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَآ ءِوَلَا عَلَى الْمَرْضٰى وَلَاعَلَى الَّذِيْنَ لَايَجِدُوْنَ مَا يُنْفِقُوْنَ حَرَجٌ اِذَا نَصَحُوْا لِلّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ ۗ مَاعَلَى الْمُحْسِنِيْنَ مِنْ سَبِيْلٍ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌرَّحِيْمٌ

“Tidak ada dosa (karena tidak pergi berperang) atas orang yang lemah, orang yang sakit, dan orang yang tidak memperoleh apa yang mereka infakkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada alas an apapun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 91)

Ibnu umar Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, “Aku menawarkan diri saat perang uhud kepada Rasulullah ﷺ. Kala itu aku berusia 14 tahun, tapi beliau tidak mengizinkan aku.” (HR. Bukhari).

Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apa perempuan wajib berjihad?’ beliau menjawab, ‘Ya, jihad yang tidak ada peperangan didalamnya, yaitu Haji dan Umrah.’”

Riwayat lain menyebutkan, “Tetapi, jihad yang terbaik (bagi perempuan) adalah haji mabrur.”

Hadits ini tidak melarang kaum perempuan pergi berjihad dengan tugas merawat korban atau pekerjaan lain.

Anas Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, “Saat perang Uhud, pasukan muslim kalah dan mundur meninggalkan Rasulullah ﷺ. Aku melihat Aisyah binti Abu  bakar dan Ummu Sulaim bersiap siaga. Aku melihat gelang kaki mereka berdua, keduanya membawa geriba air di punggung kemudian menuangkan air ke mulut kaum. Setelah itu, mereka kembali lalu mengisi geriba air kemudian datang lalu menuang air ke mulut kaum.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Izin Kedua Orang Tua

Jihad yang berhukum wajib tidak memerlukan izin kedua orang tua. Adapun jihad sunnah perlu izin kedua orang tua muslim dan merdeka, atau izin salah satunya.

Ibnu umar berkata, “Seseorang mmendatangi Rasulullah ﷺ. Ia meminta ijin untuk berjihad lalu Rasulullah ﷺ bertanya: ‘Apa kedua orang tua mu masih hidup?’ orang itu menjawab, ‘ya.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Berjihadlah pada keduanya.’” (HR. Bukhari)

Izin Orang Yang Memberi Hutang

Orang yang memiliki hutang tidak boleh pergi berjihad yang hukumnya sunnah tanpa mendapatkan izin atau memberi barang gadai dan jaminan kepada orang yang di hutangi.

Imam Ahmad dan Muslim meriwayatkan dari hadits Abu Qatadah, “Seseorang bertanya: ‘Bagaimana menurutmu jika aku terbunuh di jalan Allah, apakah kesalahan-kesalahanku terhapus?’ Rasulullah ﷺ menjawab, ‘Ya, jika kamu bersabar lagi mengharap pahala, maju dan tidak mundur, kecuali hutang, sebab jibril menyampaikan hal itu kepadaku’.”

Meminta Bantuan Kepada Orang-orang Lemah

Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu meriwayatkan, “Ayahku menilai lebih mulia dari orang yang berada di bawahnya lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ؟

“Tidaklah kalian tertolong dan diberi rezeki melainkan karena kalangan lemah di antara kalian?” (HR. Bukhari)

Wallahu a’lam Bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *