ayat kursi

AYAT KURSI

Tafsir

Kandungan Ayat Kursi

Ayat ini memiliki kandungan yang sangat agung. Disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih dari Rasulullah ﷺ bahwa ayat tersebut termasuk ayat yang paling utama didalam Al-Qur’an.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin Ka’b, bahwa Nabi ﷺ pernah bertanya kepadanya: “Apakah ayat yang paling agung didalam Kitab Allah?” “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui,” jawab Ubay bin Ka’b. Maka Rasulullah ﷺ mengulang-ulang pertanyaan tersebut, dan kemudian Ubay bin Ka’b menjawab: “Ayat Kursi.” Lalu beliau mengatakan:

لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ، وَاَلَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ إِنَّ لَهَالِسَانًا وَشَفَتَيْنِ تُقَدِّسُ الْمَلِكَ عِنْدَ سَاقِ الْعَرْشِ

“Mudah-mudahan ilmu menjadi jinak kepadamu wahai Abul Mundzir. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ayat Kursi memiliki satu lidah dan dua bibir yang selalu menyucikan al-Malik (Allah) di tiang ‘Arsy.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Imam Muslim tanpa tambahan,

وَاَلَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya…” sampai akhir hadits.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Ayyub Radhiyallahu ‘Anhu bahwa ia menjaga rak yang berisi kurma. Lalu al-Ghaul (syaitan yang datang di malam hari) mengambilnya. Maka Abu Ayyub melaporkannya kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:

فَإِذَا رَأَيْتَهُ فَقُلْ: بِاسْمِ اللّٰهِ أَجِيْبِيْ رَسُولَ اللّٰهِ

“Jika engkau melihatnya, ucapkanlah: ‘Bismillah, sambutlah ajakan Rasulullah!’”

Syaitan itu pun datang lagi. Maka Abu Ayyub membacanya dan berhasil menangkapnya. Syaitan itu berkata: “Aku tidak akan kembali lagi!” Maka Abu Ayyub pun melepaskannya. Abu Ayyub menemui Rasulullah ﷺ, lalu beliau bertanya kepadanya: “Apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Abu Ayyub berkata: “Aku menangkapnya. Ia berkata: ‘Sungguh aku tidak akan kembali, sungguh aaku tidak akan kembali!’ Maka akupun melepasnya.” Nabi berkata: “Ia akan kembali.” (Abu Ayyub berkata): “Setelah itu aku menangkapnya dua atau tiga kali. Setiap kali di tangkap, dia berkata: ‘Aku tidak akan kembali lagi.’ Aku pun menemui Rasulullah ﷺ. Beliau bertanya: ‘Apa yang dilakukan oleh tawananmu?’  Aku berkata: ‘Aku menangkapnya namun ia berkata: ‘Aku tidak akan kembali.’ Nabi berkata: ‘Ia akan kembali!’”

(Abu Ayyub berkata): “Setelah itu pun aku menangkapnya lagi, ia berkata: ‘Lepaskanlah aku! Aku akan mengajarimu sesuatu yang apabila engkau baca maka tidak aka nada sesuatu pun yang mendekatimu, yaitu ayat Kursi.’”

Abu Ayyub menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakannya kepada beliau. Rasulullah ﷺ bersabda:

صَدَقَتْ وَهِيَ كَذُوْبٌ

“Ia berkata jujur padamu, meskipun ia seorang pendusta!”

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dalam Fadhaa-ilul Qur’an dan ia berkata: “Hasan gharib.”

Imam bukhari  juga meriwayatkan kisah serupa dalam shahihnya pada kitab Fadhaa-ilul Qur’an, kitab al-Wakaalah, juga pada Sifatu ibliis, dari Abu Hurairah Radhiyallau ‘Anhu , ia berkata:

“Rasulullah ﷺ pernah menugaskanku menjaga zakat pada bulan Ramadhan. Lalu seseorang mendatangiku dan meraup makanan. Aku pun menangkapnya dan berkata kepadanya: ‘Aku akan melaporkanmu kepada Rasulullah.’ Orang itu berkata: ‘Biarkanlah aku mengambilnya, sesungguhnya aku sangat membutuhkannya untuk keluargaku yang banyak dan keperluanku yang sangat mendesak.’ Aku pun membiarkannya.

Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Hai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu tadi malam?’ Kujawab, ‘Ya Rasulullah, ia mengadukan keperluannya yang sangat mendesak dan keluarganya yang banyak, sehingga aku kasian kepadanya. Aku pun membiarkannya pergi.’ Beliau bersabda: ‘Sungguh ia telah membohongimu, dan ia pasti kembali.’

Aku tahu bahwa orang itu akan kembali berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, ‘Ia pasti kembali.’ Ternyata ia datang lagi dan meraup makanan. Kemudian hal di atas terjadi sebanyak tiga kali. Pada kali ketiga kejadian tersebut aku katakana: ‘Kamu akan kulaporkan kepada Rasulullah. Inilah yang ketiga kalinya kamu berjanji tidak kembali, ternyata kamu masih kembali.’ Lalu orang itu berkata: ‘Lepaskanlah aku, akan kuajarkan kepadamu beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberi manfaat kepadamu.’ ‘Apa kalimat-kalimat itu?’ tanyaku. Maka ia menjawab: ‘Apabila engkau hendak tidur, bacalah ayat Kursi: ﴾ اللّٰهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴿ “Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya),” (sampai akhir ayat), niscaya engkau akan selalu berada dalam lindungan Allah. Engkau tidak akan di ganggu syaitan sampai pagi hari.’ Aku pun membebaskan orang itu.

Dan keesokan harinya, Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: ‘Hai Abu Hurairah, apa yang diperbuat oleh tawananmu tadi malam?’ Kukatakan: ‘Ya Rasulullah, orang itu telah mengajarkanku beberapa kalimat yang dengannya Allah akan memberikan manfaat kepadaku. Maka aku pun membiarkan orang itu pergi.’ Beliau bertanya: ‘Apakah kalimat-kalimat tersebut?’ (Aku pun menjawab): ‘Orang itu berkata kepadaku: ‘Apabila engkau hendak tidur, bacalah ayat Kursi: ﴾ اللّٰهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴿ “Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya),” (sampai akhir ayat), niscaya engkau akan selalu berada dalam lindungan Allah dan engkau tidak akan di ganggu syaitan sampai pagi hari.’

Para Sahabat adalah orang-orang yang sangat gemar terhadap kebaikan. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

أَمَاإِنَّهُ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوْبٌ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلَاثِ لَيَالٍ يَاأَبَا هُرَيْرَةَ؟ قُلْتُ: لَا. قَالَ: ذَاكَ شَيْطَانٌ

‘Sungguh ia telah berkata benar, meskipun ia tukang dusta. Tahukah engkau wahai Abu Hurairah, siapakah yang engkau ajak bicara tiga malam itu?’ ‘Tidak,’ jawabku. Beliau bersabda: ‘Dia adalah syaitan.’ (HR. Bukhari) Hadits ini juga diriwayatkan oleh an-Nasa’i dalam kitab ‘Amalul Yaum wal Lailah.

Nama Allah Yang Paling Agung Dalam Ayat Kursi

Imam Ahmad meriwayatkan dari Asma’ binti Yazid bin as-Sakan, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tentang dua ayat ini: ﴾ اللّٰهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴿ “Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya),” dan ayat, ﴾ الم. اللّٰهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴿ “Alif laam miim. Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya),” (QS. Ali ‘Imran: 1-2),

إِنَّ فِيْهِمَا اِسْمَ اللّٰهِ الْأَعْظَمَ

“Sesungguhnya di kedua ayat tersebut terdapat Nama Allah yang paling agung.”

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits ini hasan shahih.”

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abu Umamah secara marfu’, beliau bersabda:

اِسْمُ اللّٰهِ الْأَعْظَمُ الَّذِيْ إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، فِيْ ثَلَاثٍ: سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَآلَ عِمْرَانَ وَطَهَ

“Nama Allah yang paling agung yang jika berdoa dengannya niscaya akan dikabulkan, terdapat dalam tiga surah; yakni al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan Thaahaa.”

Hisyam –yakni Ibnu ‘Ammar, seorang khatib di damaskus- berkata: “Adapun dalam surah al-Baqarah adalah ayat: ﴾ اللّٰهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴿ “Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya),” dalam surah Ali ‘Imran adalah ayat:   ﴾ الم. اللّٰهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ﴿ “Alif laam miim. Allah, tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya),” dan surah thaahaa adalah ayat: ﴾ وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ ﴿ “Dan tunduklah semua wajah (dengan merendah diri) kepada Rabb yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya.”

Wallahu a’lam bisshawaab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *